Aku ingat keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali, sekitar jam 5 subuh demi tidak mau tertinggal pesawat yang akan membawaku menikmati pengalaman berikutnya di Pulau Jeju yang disebut-sebut sebagai pulau bulan madu warga Korea, kemungkinan besar serupa dengan Bali di Indonesia. Menjadi pulau favorit untuk berbulan madu.

Bagaimana tidak semangat bangun pagi bila mengingat beberapa kali pengalaman buruk terlambat check-in bahkan ketinggalan pesawat di dalam dan luar negeri yang akhirnya menguras kantong. Di tambah lagi, setelah pembicaraan dengan Dave, host-ku di Jeonju pada saat aku pertama bertemu dengannya, tentang keberadaan Gunsan Airport yang ternyata bukan bagian dari Jeonju membuatku sedikit bertambah panik. Gusan yang berada lebih di barat Jeonju ini masih harus ditempuh selama sekitar dua jam dengan bis. Yah, bila berkaitan dengn ketepatan waktu, aku tetap optimis dengan kereta dibandingkan bis, walaupun itu di Korea. Kepanikan itulah yang menjadi penyemangat di pagi hari.

Bersiap-siap, saat aku keluar kamar betapa senang dan sekaligus sedih melihat Barry, anjing lucu milik Dave meloncat-loncat sepertinya kegirangan menyambutku, sekaligus aku sedih karena harus meninggalkannya. Aku sudah terlanjur senang dengan teman baruku yang imut dan lincah itu. Dan betapa kagetnya aku karena Dave, juga sudah bangun, tidak seperti biasanya.

IMG_3360Setelah memastikan secara raga sudah siap meninggalkan Jeonju, akhirnya aku harus menyiapkan hati untuk mengucapkan selamat berpisah pada Jeonju, pada Dave dan kekasihnya, dan juga pada Bari. Perpisahan yang lagi-lagi terasa berat. Aku sangat beruntung memang, dipengalaman couchsurfing pertamaku ini, sampai sejauh ini aku mendapat hosts yang baik, menyenangkan, suka mengobrol, dan sangat membantu, jadi saat perpisahan menjadi sesuatu yang lumayan emosional. Setidaknya dipihakku.

Berdasarkan saran Dave, aku sebaiknya menggunakan taksi demi mengejar waktu. Aku baru tau bahwa taksi di Jeonju tidaklah semahal yang dibayangkan, aku hanya membayar kurang dari 3,000 won dari rumah Dave ke terminal bis yang ditempuh sekitar 15 menit melalui jalan utama yang sangat sepi di pagi hari itu. Ini menjadi catatan tersendiri buatku bila ada kesempatan berikutnya kerkunjung ke Jeonju untuk tidak ragu menggunakan taksi di saat kepepet. Bahkan kupikir ini tidak jauh lebih mahal dari Jakarta dengan jarak yang sama.

IMG_3466

Okay, segala sesuatunya berjalan lancar sejak aku tiba di terminal, baik pemesanan sampai naik ke bis walaupun ada keterbatasan bahasa, nampaknya pula kau sudah semakin handal meggunakan translator. Kekekekekeke. Yang bermasalah adalah perasaanku (lagi-lagi main perasaan). Selama perjalanan pikiranku dipenuhi kekhawatiran tentang benar tidaknya bis yang kuambil (walaupun sudah diyakinkan benar), apakah akan tepat waktu, apakah aku akan kesasar lagi. Semua hal yang bisa aku khawatirkan. Walaupun aku tetap berusaha tenang dan menikmati perjalanan. Bagaimana tidak sadar ataupun tidak, akhirnya menikmati jug karena sampai di Gunsan aku disuguhkan pemandangan yang menarik dari dalam bis.

IMG_3473

Tiba di stasiun sekitar satu jam, dan aku masih harus dikhawatirkan dengan pilihan bis ke bandara dari terminal Gunsan karena perjalanan belum berakhir. Celingak celinguk beberapa menit di terminal yang sederhana, akhirnya aku nekat memberhentikan bis kosong yang nomornya sesuai dengan yang kucari (lupa nomor berapa). Dan sebelum naik aku berteriak “To Gunsan Airport?” kepada pak supir dan dia menjawab iya. Aku hanya sendiri di bis yang lagi-lagi menghawatirkan apakah akan benar sampai ke bandara karena selama ini, bis ke bandara tidak pernah sepi. Tetapi keraguanku tidak menghasilkan apa-apa, toh aku tidak punya pilihan lain. Itu juga alasan yang memaksaku menikmati perjalanan. Untungnya beberapa menit kemudian, secara perlahan bis dipenuhi berbagai macam penumpang dari pelajar sampai lansia. Akhirnya aku sedikit tenang. Dan betul-betul menikmatiperjalanan, apalagi dari dalam bis, kulihat berbagai macam aktifitas pagi hari yang menyenangkan di kota kecil itu.

IMG_3480Aku tambah senang lagi saat sudah mulai mendekati arah bandara, walaupun, yah walaupun awalnya lagi-lagi khawatir. Bagaimaa tidak, sepanjang kiri kanan jalan, sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah hamparan sawah. Luas, hijau, rapi, menarik, dan menyejukkan mata, walau tidak hatiku.

P1050726Demi menjawab ketakutan ini kembali kutanya supir yang untung dengan baik hatinya memberi jawaban menenangkan bahwa bandara tidak jauh lagi (seperti itu kira-kira aku megartikan bahasanya).

Dalam beberapa menit, akhirnya sampai juga di bandara, keseluruhan perjalanan 1 jam 40 menit dan juga kekhawatiranku berakhir. Bandara Gunsan di depan mata; sepi, lowong, dan udara segar di pagi hari. Ternyata aku kepagian, aktifitas di bandara di mulai jam 9 pagi, jadilah dalam 1 jam itu aku yang hanya ditemani sepi dan peta-peta gratis ini, ah juga ipad, berusaha mencari kesibukan. Entah upload  foto-foto perjalanan di berbagai media sosial dan chatting dengan kerabat yang terpisah benua dan waktu dan pastinya sampai aku bisa check in, boarding, dan akhirnya benar-benar meninggalkan semenanjung Korea Selatan ini dan menuju pulau Jeju dan juga pengalaman yang menantiku di sana.