Ke Aceh itu salah satu tujuanny adalah mencoba berbagai makanan khasnya yang terkenal nikmat, semacam kopi dan mie-nya. Saat aku berkunjung ke batas barat Indonesia itu, tanpa ada referensi tempat makan, jadilah beberapa tempat yang aku coba hanya berdasarkan radius terdekat dari penginapan dan juga modal bertanya dengan orang setempat.

Gak banyak juga sih tempat yang dicoba berhubung tinggal di Banda Aceh hanya semalam dan di Sabang sendiri, seperti yang sudah diinfokan sebelumnya, kebanyakan bersarang di kamar karena hujan. Walaupun begitu, tetap saja beberapa makanan yang di nikmati cukup memuaskan rasa penasaran akan kuliner Aceh.

First, mie Aceh

Yuppie, apalagi yang gak menggoda untuk di coba dalam perjalanan ke Aceh, bila bukan mie-nya. Jadi pertama tiba di Banda Aceh dan saat perut sudah menderukan gendang kelaparan, aku langsung saja berkeliling ke beberapa warung di pinggir jalan yang banyak terdapat di sekitaran hostel tempatku menginap malam itu. Setelah berputar-putar, akhirnya pilihan jatuh ke warung yang cukup ramai dengan pengunjung. Tepat di samping penginapanku.

Tak banyak bertanya aku memesan mie goreng telur ditemani dengan kopi tanpa gula.

Saat mie dihidangkan, penampilannya tidak semenarik hidangan yang ada di restoran-restoran spesialis makanan Aceh yang suka aku coba di Bandung. Namun saat aku sudah mulai mencoba, dari sendok pertama saja rasanya sudah nikmat. Kekenyalan mie-nya pas dan rasanya manis-manis ada gurihnya.

Aku sangat menikmati hidangan yang bahannya sesederhana mie, telur, dan sawi dalam piring yang penampakannya tidak begitu menarik itu. Belum lagi, kehangatan kopi Gayo yang terasa ringan saat diminum, pas menemani malam yang dihiasi oleh rintik hujan.

Kopi dan kue bertabur gula untuk sarapan

Paginya aku memilih kopi dan roti yang bertabur gula. Terburu-buru untuk mengejar tiket dari Banda Aceh ke Sabang dan juga tidak punya ide mau menyantap makanan apa, membuatku memilih kopi dan kue sebagai sarapan.

Untuk kopi, seperti malam sebelumnya, aku memilih kopi Gayo yang diracik langsung didepanku. Penyajiannya sedikit heboh, tetapi rasa yang dihasilkan sangat mantap. Kue bertabur gula kupilih karena tidak ada pilihan lain 😀  Di gerai-gerai lainnyapun untuk pagi hari, kue yang dihidangkan serupa. Semacam roti cane.

IMG_6263Perpaduan makanan yang sangat sederhana, tetapi ternyata kemudian menjadi favoritku untuk sarapan-sarapan berikutnya selama di Aceh. Tanpa bosan. Karena hakekatnya sarapan itu sederhana asal cukup untuk menopang harapan kegiatan yang akan dilakukan dipagi hari.

Bakwan Aceh

Nah untuk yang satu ini aku baru kenal dari temanku di Banda Aceh. Aku lupa nama tempatnya, yang pasti ini ada di salah satu jajaran ruko di pasar utama ibukota.

Dari namanya bisa ditebak bahwa ini sama saja dengan bala-bala ala orang Sunda, atau juga ote-ote sebutan orang Kalimantan, bedanya Bakwan Aceh ini disajikan dengan tambahan kecambah dan kuah merah yang pedas. Oh yah untuk bakwan sendiri itu bisa juga tahu atau gorengan lainnya. Ada rasa-rasa gurih, pedas, dan renyah saat semua bahan dicampur. Juga ada sedikit merasa sehat saat makan gorengan berkuah ini ditemani dengan kecambah yang segar.

IMG_6265Sebagai pecinta makanan berkuah, bahwan Aceh ini sangat masuk diseleraku, kecuali bagian pedasnya, perlu diturunkan (cupu). Bakwan ini mengingatkanku pada hidangan batagor kuah di Bandung, tetapi dengan pedas yang lebih menantang. 😀 Berani coba?

Ayam Goreng dan bebek kuah

Beberapa jam sebelum meninggalkan kota Banda Aceh menuju Kalimantan, kami memutuskan untuk menikmati satu lagi makanan di kota itu yang juga tak kalah ramai dari pengunjung, dan umumnya adalah orang-orang Banda Aceh sendiri.

Terletak sekitar 10 menit dari pintu gerbang bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, saat itu tempat makan ini sedang melayani banyak pengunjung dan dari info temanku, tempat ini selalu penuh saat jam makan siang. Aku sarankan datang kesini jangan saat perut benar-benar lapar, menunggu hidangan disajikan tidak begitu cepat.

Kami memesan ayam goreng dan bebek kuah. Aku selalu menjadikan ayam goreng di restoran manapun sebagai pilihan terakhir, tetapi ayam goreng di sini membuatku terpikat dari gigitan pertama. Lembut dan sangat gurih. Ayam goreng yang berwarna kuning keemasan memikat itu bisa sangat nikmat dan memang nagih disajikan dengan sambal yang tak kalah gurih dan tak lupa, kuah pendamping yang juga menggiurkan.

P1070193Untuk bebek kuahnya, surprisingly juga ternyata sangat lezat. Penampakannya yang tak meyakinkan ternyata berbanding terbalik dengan rasanya yang sangat mengesankan. Dan lagi-lagi temanku dengan bangga mengatakan bahwa bebek kuah pedas adalah menu andalah restoran setempat.

IMG_6270Pantas saja disemua meja terhidang bebek kuah. Memang selera lokal tidak diragukan lagi. Tambahan lagi, nasi hangatnya membuat selera makan bertambah. Abaikan keringat yang mengalir disiang hari yang menyengat karena entah kapan lagi bisa menikmati bebek kuah ala Aceh yang lezat ini lagi.

IMG_6269Mengejar penerbangan, akhirnya aku harus menuju bandara. Serasa berat meninggalkan Aceh dan juga gelas-gelas kopi yang harganya sangat bersahabat. Temenku masih menawarkan untuk menyantap gelas terakhir di kedai dalam kawasan bandara, walaupun sudah membawa beberapa kilo bungkusan-bungkusan manis biji kopi Aceh. Pesona kopi Aceh yang memikat membuatku sulit menolak, meskipun sejak pagi sudah dijejali dengan beberapa rasa gelas kopi yang sejenis. Memang Aceh dan pesona makanannya sungguh memikat.

Bila suatu saat kembali ke Aceh, aku pasti akan menikmati itu semua lagi dan tentunya harus ada tambahan referensi makanan baru.

Ada referensi lain?

Advertisements