Selama pelarian tanggung ini, tentu banyak membuahkan kenangan dan kesan buat aku, ada yang manis, banyak pahit dan kekhawatiran, terkadang seru-seru mendebarkan, dan berbagai rasa lainnya. Salah satu yang sulit aku lupa sepertinya saat mampir di Tehran Imam Khomeini International Airport, Iran sekitar 5 jam. Transit tepatnya.

Entah kenapa, perjalanan yang kali ini lebih panjang dari biasanya tapi malah di saat inilah aku tidak seperti aku yang biasanya saat akan melakukan perjalanan keluar Kalimantan. Aku yang biasanya sangat penuh perhitungan dalam pendanaan dan berbagai rencana lainnya. Kali ini malah semuanya tanpa rencana jelas. Saat melihat tabungan menipis dan kondisi menganggur, aku dengan tiba-tiba memesan tiket satu arah ke negara manapun di Eropa yang paling murah, dan jadilah Spanyol, kota Barcelona tepatnya. Dengan modal dana minim dan nekat maksi, aku berangkat. Nah, tiket yang murah ini adalah perjalanan dari Jakarta ke Barcelona dengan transit di tiga negara lainnya (Malaysia, Iran, dan Turki), serta tiga penerbangan yang berbeda.

Dengan naifnya, selama membuat visa Schengen, aku gak memeriksa apakah di dua Negara terakhir aku butuh visa transit atau tidak. Aku hanya mengandalakan informasi dari teman bahwa bila itu transit dan penerbangan langsung, sebagian besar Negara akan memberlakukan free visa zone, atau sejenisnya. Aku dengan naifnya percaya, thatโ€™s it, tanpa memeriksa ulang ke setiap kedutaan. Contoh ngawur!

Sudah sok pede di awal, saat transit hampir 6 jam di Kuala Lumpur, Malaysia, tiba rasa-rasa mau mencari info tentang transit di Iran (telat banget yah). Dan ternyata tidak ada satupun yang membuatku yakin bahwa aku tidak perlu visa, ssampai aku menemukan ketenangan sesaat setelah membaca bahasan tentang transit di blog punya Winny (maaf baru sempat bilang makasih di sini), dia dengan masalahnya untuk keluar bandara butuh visa, akhirnya aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku gak butuh visa. Tapi tetap aja sepanjang penerbangan deg-degan. Alhasil tidur gak nyenyak.

Tibalah pengumuman mendarat, yang bikin tambah aliran darah ini berpacu lebih kencang, ternyata kita harus menutup kepala tepat saat keluar dari pesawat dan memasuki bandara Tehran, Iran. Bagaimana enggak, pasminah yang biasanya di tas tangan, lupa aku keluarkan dari bagasi. Alhasil, cardigan seadanya dijadikan penutup kepala dengan bantuan mbak pramugari yang cantik nan ramah.

Aku pikir kekhawatiran akan berakhir dengan adanya penutup kepala, ternyata aku salah. Aku gak kenal diriku sendiri yag saat itu akhirnya kebingungan. Aku gak tau apa yang terjadi semua penumpang mengambil antrian untuk membuat Visa On Arrival atau apapun itu, jadi terpaksalah aku yang jadi ragu dengan info-info yang baru kubaca (maaf Win, ragu lagi) ambil antrian. Tadinya ingin langsung bertanya kepada petugas bandara apakah aku perlu VOA mengingat hanya menunggu penerbangan dengan pesawat berbeda dan tidak akan menunggu di bandara, tapi melihat wajah-wajah layu yang siap menerkam bila aku memotong begitu saja, terpaksa aku mengantri di loket formulir. Setengah jam menanti, aku hanya di suruh ke loket pembelian asuransi karena pihak imigrasi tidak menganggap asuransi kesehatan dan lain-lain yang termasuk dalam asuransi yang sudah kubeli dari salah satu bank ternama di Indonesia walaupun intu sudah mencakup perjalanan seluruh dunia.

Sudah menganti selama 30 menit lagi, sudah mau nangis juga karena di ping-pong gitu, akhirnya aku nekat bertanya ke orang di antrian berbeda, yang aku tahu akan ke Turki dari pembicaraannya yang nyaring di pesawat sebelumnya.

Saat lagi bertanya, seseorang di barisan itu mengenali paspor Indonesiaku dan akhirnya tau dia juga dari Indonesia dan meyakinkan bahwa kita gak perlu paspor untuk transit dan mengajak bergabung di barisan mereka. Fixed. Setelah satu jam terbuang.

Di barisan itu ternyata paspor semua penumpang transit dan ganti pesawat dikumpulkan untuk diatur bagasinya. Hanya itu saja. Tidak ada pemberitahuan lainnya, bahwa kami akan aman hanya menunggu di situ. Terakhir baru sedikit lega setelah seorang wanita Iran yang cantik dan baik yang kutemui di kamar kecil meyakinkan bahwa itu biasa dan mencegah kami meminta keluar dari imigrasi dan bandara, sampai waktu boarding berikutnya.

3 jam menuju penerbangan berikutnya tetap tidak ada pemberitahuan apapun setelah pengumpulan paspor dan nomor bagasi. Dua jam kemudian sama, penumpang semakin gelisah, tapi tak ada tempat mengadu karena staff sejak mengumpulkan paspor tidak ada di lokasi. Satu jam semakin khawatir walaupun ada yang tetap bisa tidur nyanyak. Kami semakin gundah gulana. 50 menit menuju boarding akhirnya petugas muncul dengan paspor kami di tangan dan wajah kamipun berseri kembali.

Sambil membacakan satu persatu nama di paspor yang kadang pemilik nama sendiri tidak mengerti karena perbedaan pelafalan setia huruf. Pemanggilan inipun disertai dengan nomor bagasi yang baru. Nomor penerbangan baru, yang kemudian disinilah masalah baru buat aku di mulai karena tag bagasikuย  masih milik air asia, sedangkan penerbangan sudah kurang dari 45 menit untuk mengajukan komplain. Saat itu aku harus memilih bagasi atau penerbangan berikutnya yang masih dua kali pesawat dan aku memilih meninggalkan bagasi, menghadapi pertualangan baru dengan dua penerbangan berbeda dan membawa tambahan satu masalah, bagasi.

Jadi resume saat transit di Iran dari cerita di atas:

  1. Kenali persis ke Iran transit seperti apa dan berapa lama.
  2. Pastikan bandara yang dituju memperbolehkan transit tanpa keluar bandara dan tanpa menggunakan visa, saat itu aku di Tehran Imam Khomeini International Airport.
  3. Untuk penerbangan lanjutan, dengan menunjukkan tiket penerbangan berikutnya, tidak ingin keluar imigrasi (tidak dapat cap juga artinya), tidak perlu visa, hanya perlu mendaftarkan diri ke petugas yang ada di bandara.
  4. Untuk transit tapi ingin melihat-lihat Iran walaupun hanya beberapa jam perlu membuat Visa.
  5. Bila tidak yakin juga, tanya langsung ke pihak kedutaan.

Ada yang punya pengalaman lain transit di Iran gak? Bandara manapun, boleh berbagi pengalaman di sini. Aku tertarik cerita lainnya. Apa sebingung diriku, atau aku ajah yang ignorant and careless.

Advertisements