Versi aku pastinya tempat-tempat yang mengandung kenangan. Yes, karena kita gak punya alat pemutar waktu, jadi hanya kenangan yang tertinggal. Tapi beberapa tempat yang akan disebutkan menyimpan kenangan baik, jadi semoga saja bisa jadi referensi baik buat yang lainnya.

  1. Bukit Moko

Susah untuk tidak memasukkan Bukit Moko dalam daftarku, walaupun terakhir kali ke sana adalah belasan tahun yang lalu. Saat sampai ke puncak Moko adalah sesuatu perjuangan sangat, yang mungkin menjadi penyebab rasa nikmat indomie rebus ala Moko dan pisang goreng hangatnya, juga terasa sangat pas menemani aku dan beberapa teman orang menikmati pemandangan malam kota Bandung yang begitu mempesona.

Tapi tenang saja, bila melihat berbagai foto Bukit Moko yang ajib banget dibagikan di berbagai media sosial, terutama IG, Bukit Moko sepertinya sudah mudah diakses, tidak seperti dulu di mana kendaraan hanya bisa diparkir di kaki bukit dan kita harus mengeluarkan tenaga lebih untuk melewati punggungnya yang curam.

  1. Bosscha Observatory dan Museum Geologi

11/12 dengan Bukit Moko, Bosscha Observatory aku kunjungi juga jaman kuliah dan letaknya tidak di Bandung, tapi di utara Bandung, Lembang. Walaupun begitu, Boscha tetap di hati. Gimana enggak bila ini adalah salah satu observatory tertua di Indonesia yang masih aktif digunakan. Hanya saja, bila ingin melihat bagian dalamnya, harus membuka website yang dikelola ITB, tentang prosedur kunjungan. Ini sangat tepat menjadi kunjungan buat para pecinta bintang dan hal-hal yang berkaitan dnegan angkasa lainnya.

Satu paket dengan Museum Geologi yang ada di Jalan Diponegoro karena sama-sama berkaitan dengan edukasi. Sesuai namanya, museum ini berkaitan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Geologi, terutama conto batuan, fosil, mineral, dan lainnya yang dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.

  1. Palasari

Pusat penjualan buku bekas dan akhir-akhir ini di tambah buku baru, Palsari, termasuk masih rajin aku kunjungi setiap kali kembali ke Bandung. Selain murah dan bisa dapat buku-buku dan komik-komik lama, aku senang melihat ke setiap bilik-bilik kecil di Palasari, di mana setiap bilik punya buku-buku berbeda. Mencari-cari buku yang diletakkan secara acak, atau terkadang berharap dapat kejutan-kejutan dari setiap bilik merupakan kesenangan tersendiri buatku. Ketakberaturan yang menyenangkan buatku bila mengingat beberapa penjual yang hapal betul setiap buku yang dijualnya dan terkadang memberi masukan. Kesenangan yang berbeda dengan membeli buku di toko-toko buku besar.

  1. R.M Lima Serangkai

Hah, tempat makan juga menjadi kunjungan, karena di sini semua salah satu tempat awal kenangan gw saat kuliah di Bandung di mulai. Tentang jurusanku, tentang bertandang ke sini setiap dapat duit kiriman, setiap ada anak baru di jurusan, dan setiap ingin curhat panjang dengan sahabat-sahabatku. Ini juga loh rumah makan yang mengenalkanku dengan makanan khas daerah Sumatra Utara. Daging panggang dengan kuah supnya yang super lezat dengan harga terjangkau membuat aku suka lupa kalo nasinya yang hampir sebakul itu sudah masuk semua ke perut. Belum lagi sambah jeruknya yang lezat. Ini adalah masakan Karo terbaik yang pernah aku rasa.

  1. Ganeca

Sampai saat ini, selalu ada alas an untuk kembali ke Jalan Ganeca, kampus aku dulu. Entah reuni, entah hanya untuk makan berbagai jajanan di sekeliling kampus dengan teman-teman hanya untuk sekedar mengembalikan memori ke masa silam, saat hidup menjadi mahasiswa ternyata jauh sangat enak, sangat beragam, dan hal-hal lainnya. Bahkan peophonan, lengkap dengan ciutan burung koak serta kotorannya, bisa menjad membuatku kangen. Satu-satunya yang tak membuatku kangen tentang Jalan Ganeca adalah kebun binatang, berada tepat di sebelahnya yang sampai sekarang aku belum pernah kunjungi.

foto 

Bonus:

Warung Taru

Tempat makan idola terutama kalo kumpul satu er-te. Ini menjadi pilihan aku dan teman-teman untuk brunch. Tempatnya nyaman didukung oleh desain terbuka yang menyuguhkan tidak hanya pemandangan indah kehijauan daerah utara Dago, tetapi juga berbagai makanan dab minuman khas Indonesia yang memuaskan dengan harga bersahabat dengan kantong.

Punclut

Selain Warung Taru di Dago, tempat ngumpul keroyokan lainnya adalah Punclut atau Puncak Ciumbuleuit Utara. Bila kami pilih Warung Taru untuk brunch, Punclut biasanya disamperin untuk makan malam. Selain terpikat dengan makanan khas Sunda yang enak dan harga yang terjangkau, serta pilihan lauk yang bervariasi dengan tempat yang luas. Semua itu diberi bonus pemandangan gemerlap malam kota Bandung.

Sudah 5, pilihan Yuna di Bandung. Kalo kamu apa yang paling di suka dari Bandung? Atau kalo belum pernah mau ke samperin yang mana?

Advertisements