Jadi setelah bingung-bingung dari bandara dan sedikit drama dan akhirnya ketemu juga bahu kasur untuk melepas lelah, cerita berikutnya adalah si Manis yang sering diikuti masalah ini tetiba sadar dan harus mengubah rencana mengingat besoknya hanya punya satu hari efektif untuk mengeliligi Jeju karena hari ketiga harus kembali ke Seoul, sebelum kembali ke Tanah Air.

Seperti sudah tidak lelahnya diceritakan bahwa perjalanan ke Korea Selatan saat itu tanpa perencanaan detail. Aku saat itu bukan seperti aku di awal-awal jalan keluar yang harus merencanakan segala hal secara detail, bahkan sampai berapa lama di suatu tempat harus di atur agar tidak ada yang kelewat, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan dari makan sampai transportasi, dan juga oleh-oleh. Ditambah lagi hal yang harus di coba apa aja di suatu lokasi. Semaksimal mungkin. Entah lelah, entah ingin mendapat kejutan-kejutan (asal jangan kaya yang sudah terjadi banyaknya terkejut yang gak manis). Aku hanya bermodal ingatan dari jutaan foto dan artikel yang pernah kubaca dan kulihat tentang Jeju bahwa yang menarik adalah pemandangan dari gunung tertinggi di pulau itu, columnar basalt yang tersebar di berbagai titik, patung-patung dari batuan beku yang besar dengan latar belakang laut yang indah, menyaksikan ‘putri duyung’ ala-ala Jeju yang mencari kerang atau sejenisnya hasil laut, dan masih banyak lagi yang dijanjikan indah dan mengagumkan (bukan janji namanya kalo gak indah apalagi mengagumkan). All is set. I am ready for Jeju for whatever it takes.

Itu semua adalah bayangan memutuskan membeli tiket promo ke Jeju dan saat di dalam pesawat yang membawaku ke pulau di selatan Semenanjung Korea itu. Namanya bayangan (da*n kenapa sih yang begituan semua terlihat menjanjikan).

Namun kenyataan berkata selalu berbeda (ampun abang di kaki Gunung Nam), aku gak lupa pengalaman bandara, terpaksa di malam kedatangan setelah melepas lelah, semua keinginan awal diubah. Nampaknya aku harus mengubah rute perjalanan untuk keesokan harinya. Pertama untuk ke lokasi semua yang kusebutkan di paragraf dua, tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Kedua, jarakku dengan semua angan-angan masih di paragraf yang sama lumayun lumayan jauh dan lokasinya berada di belahan Jeju yang lain dan transportasi hanya ada bis yang jadualnya tidak menentu (sama gak menentunya dengan keputusanmu Bang). Ketiga masalah bahasa di mana tidak semua bis menyajikan informasi diluar bahasa Korea. Mampuslah adek yang kepedean ini bang. Keempat aku sebenarnya menjadi pasrah saja dengan apa yang ada didekatku, Sinchon-ri.

Jadi dengan muka setebal tembok pembatas jalan yang kelihatannya saja tebal tapi mudah rapuh, eh, aku memutuskan untuk mendatangi cowok yang sebelumnya. Walau tau bahasa Inggris, apalagi bahasa kalbu tidak akan membuka jalur komunikasi yang baik diantara kami berdua, aku cuek saja. Berbekal lembaran-lembaran peta gratis yang sudah kukumpulkan dengan semangat di bandara tadi dan lumayan menambah berat tasku, kudatangilah dia.

img_3519Dia menolak awalnya karena menganggap hubungan komunikasi kami tidak akan berhasil. Tapi akupun gak punya pilihan selain dia. Akhirnya dengan lebih memaksa sedikit (semoga dia gak kesal), kukeluarkan aplikasi ENG_KOR Translator dari LINE dan kutunjukan padanya keperluanku. Dan semesta berpihak padaku, dia tertarik, lalu mengunduh aplikasi yang sama, dan menit berikutnya, terjadilah komunikasi. Aku menanyakan berbagai tempat dan caranya ke sana, diselingi ‘google’ sana-sini dari kedua belah pihak. Semua berjalan lumayan walau terkadang beberapa terjemahan membuat mata melotot mau keluar atau otak rasa mau pecah karena serasa mengikuti kuis ‘merangkai kata-kata yang salah dan berantakan menjadi kalimat yang baik dan benar, sesuai EYD’. Whatever it worked for us both.

directionKeruwetan itu berlangsung beberapa menit sampai akhirnya seorang pria lain yang seumuran dia masuk dan disusul cewek terlihat seidikit lebih tua, dan mereka mengaku sebagai pemilik penginapan. DANG!!! So, nuguseyo?  (Siapa Anda) tanyaku pada pria yang dari awal ada. Dan dari penjelasan pemilik rumah, ternyata dia adalah pengunjung dari Seoul yang sudah menginap selama lebih dari dua minggu. GREAT! Sedikit malu dan rasa tak enak setelah aku memperlakukannya sebagai pemilik penginapan, aku meminta maaf karena sudah salah. Untung aja dia itu bukan hal besar buatnya karena diapun bingung untuk menjelaskannya. Sudahlah. Kita lupakan dan akhirnya kami memutuskan untuk makan malam ala Korea yang terkenal bila bersama dengan teman-teman (jadi kami tetiba sudah jadi teman bahkan dengan pemilik penginapan) yaitu dengan ayam goreng dan sedikit minuman.

hoonieMalam itu akhirnya ditutup dengan makan dan minum karena sepertinya dua pria tadi kebanyakan minum sehingga aku tidak bisa menanyakan lebih banyak, walaupun diotakku masih berseliweran ribuan pertanyaan. Besok pagi masih ada kesempatan bila pengaruh soju cepat selesai.