img_3505

Seharusnya kabut ini menjadi pertanda awal bahwa akna banyak hal yang mengaburkan perjalananku di Jeju.

Kalo ada sedikit penyesalan saat gak mempersiapkan apa-apa untuk satu perjalanan yah saat menapakkan kaki pertama kalinya di Bandara Internasional Jeju waktu itu. Kemalasan yang menyergap sudah tingkat akut, sampai aku malas mencari bis apa yang akan membawaku ke penginapan di Jeju, yang jauh dari pusat keramaian. Mengandalkan kekuatan ‘tanya penduduk setempat’ selama 30 menit dan memastikan, aku akhirnya ikut mengantri manis di halte (lupa nomornya) yang akan membawaku ke Sinchon-ri.

p1050741Ternyata, oh ternyata kebingungan gak berhenti di cari transportasi, tapi juga saat di dalam bis karena semua keterangan dalam bis ditulis dan diumumkan dalam bahasa Korea. Maka bertambahlah derita si manis ini. Berdasarkan google map, perjalanan ke Sinchon-ri memakan waktu sekitar 1 jam dari bandara. Ternyata setelah satu jam lebih tidak ada aroma-aroma laut yang bisa kurasakan dari dalam bis, mengingat penginapanku hanya berjarak tempuh hanya sekitar 5 menit dari pantai (dari keterangan di halaman depan penginapan), kebinggungan dan kepanikan semakin bertambah.

Tetap mempertahankan muka lempeng, aku berfikir positif bahwa bis kemungkinan berputar-putar jauh dari orbitnya. Tetapi, semakin lama pemandangan yang terlihat semakin tidak meyakinkan bahwa itu kawasan pantai. Jajaran apartemen-apartemen tinggi di daerah yang sedikit berbukit menambah kekhawatiran. Alhasil setengah jam lagi dipenuhi kekhawatiran, sampai akhirnya aku hanya satu-satunya penumpang dalam bis dan mau tidak mau aku harus turun di sesuatu halte yang namanya sendiri tidak kuketahui (ditulis dalam hangul) karena bis sepertinya akan berbalik ke bandara. *ambil carrier, turun dalam bis, nahan air mata*.

Setelah duduk bego dan tatapan hampa, berusaha melacak keberadaan di google map, baru kusadari aku sedang berada di daerah antah berantah. *duduk sedih di samping pohon yang teduh*.

Selang beberapa menit kemudian, ada seorang adek imut yang berjalan menuju halte dengan mamanya yang manis, dan dengan lincah this nuna menggaet si adek untuk ditanya arah dan tujuan dan bis mana yang seharusnya kakak ini pakai ke Shincon-ri (untung si adek bisa bahasa Inggris). Setelah dengan sabar menjelaskan nomor bis mana yang harusnya kugunakan, si adek dan mamanya dengan kebingungan bertanya bagaimana kakak manis ini bisa tersasar jauh ke sini dan dengan sedih ditemani sedikit malu hanya mau menjawab, “salah naik bis”.

Akhirnya naik juga aku ke bis sesuai anjuran si adek sambil dadah-dadah manis dan terima kasih sudah ditunjukkan arah. Dan setelah tambahan beberapa puluh menit tibalah aku di halte Shincon-ri.

img_3507Berbekal peta hasil screen captured sampai juga aku di penginapan yang sudah kupesan.

Kebingungan kuharap berhenti mengikutiku saat aku masuk ke pintu utama penginapan. Namun apa daya dia tidak mau pergi. Setelah berteriak dengan urat di bangunan yang sepi, aku malah di sambut dengan terikan “KA!! KA!!’ dari seorang kakek tua yang aku tau artinya “PERGI!”, terima kasih untuk ribuan episode drama-drama Korea yang tahunan kutonton. Setidaknya aku tau aku tidak diterima dengan baik oleh si kakek. Namun ketidaktahuan arah, ketiadaan tempat untuk berteduh membuatku tidak mau meninggalkan tempat itu.

Menunggu sekiranya si kakek sudah tidak akan muncul lagi, menyelip naik ke tingkat dua bangunan yang memajang nama guesthouse dan meletakkan tasku di dekat pintu, dan kemudian berjalan menuju pantai yang terlihat dari tangga, sambil mengadu kepada pihak agen penyewaan penginapan bahwa aku di tolak di depan guesthouse yang sudah kupesan. Aku harus tetap tinggal di sana pikirku saat itu. Sudah terlalu sore untuk mencari penginapan baru apalagi lokasi sekitar adalah pemukiman penduduk.

img_3509Sambil menghabiskan waktu, berharap si kakek tidak akan keluar lagi dan si pemilik penginapan muncul, aku berjalan-jalan di jalan semen di pinggir pantai sambil berusaha menikmati keindahan laut yang membentang luas dihadapanku dan semilir anginnya.

p1050743Lama aku berada di pantai itu sebelum akhirnya merasa perlu kembali ke penginapan, berharap siapapun muncul untuk memberitahukanku bahwa itu adalah penginapan yang benar.

img_3512Ternyata belum ada. Masih kosong. Hanya ada 4 kamar memang di penginapan itu. Dan menurutku semua penghuninya sedang keluar saat itu. Jadi kuputuskan untuk menunggu lebih lama (untung saja aku sudah terbiasa menunggu apapun selama hidupku ini). Aku naik ke rooftop.

img_3518Setidaknya senja yang kulihat dari rooftop menampakkan warnanya yang cantik saat itu, jadi aku tidak terlalu sedih. Dengan bekal susu pisang di tangan dan langit yang indah, kutunggu siapapun segera datang. Menyelamatkan aku dari kebingungan, kesepian, dan kehampaan ini (eaaaa), sampai akhirnya penantianku terjawab, seorang pria berwajah Korea muncul bak jawaban yang selama ini kutunggu (ini asli drama, harus dibayangkan seperti drama), dengan lincah dan semangat kutanya apakah tempat kami berdiri saat itu adalah penginapan yang benar. Dan untungnya walaupun dia kebingungan bagaimana menjawab pertanyaanku (yang kemudian kutahu dia sama sekali tidak menggunakan bahasa Inggris) aku mendengar jawaban, “yes, guesthouse.” (baca dengan aksen Korea).

Yes, akhirnya aku masuk dan dia menunjukkan satu kamar kosong dengan 3 ranjang bertingkat yang rapi dan bersih untukku. Dengan gerakan-gerakan tangan dia menunjukkan ke satu kasur untukku dan beberapa ruangan seperti kamar mandi, ruang menonton, dapur, dan tempat jemuran. Akhirnya aku bisa selonjoran manis setelah semua kebingungan yang kulalui, menghabiskan sisa separuh siang yang kupunya.

Perjalanan dari bandara dan semua hal yang berhubungan dengan guesthouse yang harusnya kuselesaikan dalam waktu sekitar 1 jam, dengan segala ketidaksiapan harus terselesaikan dalam waktu 3,5 jam. You deserve it, Yuna!