Tepat sebulan sudah sejak pertama kali aku menapakkan kaki pertama kali di kotanya si abang di sana. Untuk 14 Mei 2016 sendiri adalah hari kedua aku di Seoul. Seperti yang sudah puluhan kali aku bilang sebelumnya, perjalanan kali itu tanpa daftar panjang tempat yang akan di tuju, makanan apa yang akan di coba, dan berapa uang yang harus dikeluarkan. Walaupun ada bayangan, abang dimataku tetapi tidak secara detail. Begitu juga hari itu. Irina, host aku yang super kece akhirnya mengajak bersama ke War Memorial Korea karena kebetulan dekat dengan daerah kegiatan dia. Kali itu adalah kunjunganku ke War Memorial yang kedua setelah Sydney yang aku sukai arsitekturnya.

Kunjungan Memorial tidak pernah bisa dibilang menyenangkan. Bagaimana tidak, di sana ada tersimpan kenangan pahit dari peperangan, yaitu raga mereka yang berkorban. Jadi bila itu pahit kenapa selalu kembali dan gak kapok berharap Yuna? Eh salah maksudnya kenapa kembali lagi ke tempat yang serupa? Bukan karena aku suka menggali rasa sakit yang pernah ada atau gak pernah kapok dengan masa lalu yang perih (nah ini sudah mulai masuk ranah-ranah berbahaya yang namanya  curi-curi curhat), tetapi aku hanya mau mengenang mereka yang telah berkorban demi negaranya. Ingin melihat bagaimana bentuk peringatan (walaupun jauh banget dari pengorbanan yang sudah diberikan para prajurit ini dan keluarganya) terhadap mereka yang telah berkorban . Sekarang aku terdengar sok-sokan saat belum pernah mengunjungi monument dengan lebih khusuk dan hikmat di negara sendiri. Suatu saat nanti akan aku lakukan.

Setelah berganti kereta beberapa kali akhirnya tibalah aku dan Irina di stasiun menuju War Memorial Korea. Aku suka jalan yang kami lewati dari stasiun menuju War Memorial, pepohonan rindang di kanan kiri jalan melindungi wajah menawan kami dari sengatan matahari terik di musim Semi Seoul siang itu. Aku menebak, saat musim gugur nanti, jalan ini akan menjadi instagram-able (kalo boleh ambil bahasa kekinian).

Memorial1Beberapa menit berjalan sampai di gerbang memorial yang luas dan dipenuhi dengan pengunjung baik lokal maupun mancanegara. Anak-anak berlarian, orang tua sibuk memotret anak-anak mereka yang lucu dan begitupun aku dan Irina langsung megeluarkan kamera kami dan mengabadikan setiap momen.

Memorial2Halaman terbuka yang luas dipenuhi dengan berbagai macam kendaran yang dipakai selama perang, lengkap dengan keterangan setiap kendaraan. Aku pikir ini akan sangat menarik buat mereka yang menyukai segala hal yang berbau kendaraan perang.

MemorialHalaman yang berlatar belakang Namsan Tower ini, menjadikan aku sedikit melankolis memandang halaman yang penuh kenangan pahit perang berbaur secara konyol tentang romantisme Namsan Tower. Ah, sudahlah.

Selesai melihat apa yang ingin kami lihat dan memotret apa yang ingin kami potret di luar, kami masuk ke “Memorial Hall”, dinding yang bertulisakan nama para pejuang perang. Serupa dengan yang ada di Canberra.

Selalu ada kesedihan saat membaca nama yang terpampang, okay, aku tidak bisa membaca semua nama yang ditulis dengan Hangul pada dinding, tetapi perasaan itu tetap ada. Daftar nama panjang ini terlalu menyedihkan buatku pribadi, jadi aku ajak Irina untuk segera meninggalkan tempat ini dan masuk ke “Exhebition Areas.” Ini adalah tempat yang pas untuk memdapat informasi apapun yang pengunjung ingin ketahui tenatang perang yang pernah ada di Korea. Pecinta sejarah akan menyukai dengan sangat, selain itu ada “display digital”, mempermudah seleksi informasi apa yang akan dicari tahu. Area ini sangat luas dan nyaman.

Yang sedikit berbeda dari War Memorial of Korea adalah “Combat Experience Room”, tempat yang disediakan bagi mereka yang ingin merasakan langsung apa kondisi yang dihadapi para pejuang Perang Korea.

Memorial4Kunjungan aku dan Irina tidak lama di sini, karena saat itu sudah lumayan sore, matahari sudah mulai condong ke barat. Selain Irina ada kegiatan lain, kamipun harus mengisi perut yang ternyata sudah melewati jam makan siang.

Memorial3Seperti aku bilang kunjungan ke war memorial manapun tidak pernah menyenangkan, tetapi pasti memberi kesan kepada masing-masing pengunjung.

Bersambung…