Sudah lama banget yah gak nulis di sini, si Yuna lagi aktif-aktifnya di-blog milik pribadi yang terkadang banyakan curhat daripada menginspirasi dan memberikan bacaan yang menyenangkan ke teman-temannya yang mau gak mau baca dia punya blog karena muncul di pemberitahuan, sedangkan si Ewang yang artis Sangatta itu cukup sibuk dnegan kegiatannya dan nampak setali dua uang dengan si adek, dia juga lebih sering mencurahkan isi hatinya yang gak jauh beda dengan Yuna di blog pribadinya. Uh, Nampak mereka berdua memang lebih suka curhat daripada berbagi hal penting. Okay, kita sudahi dulu kata pengantar ini.

Masih nuansa Toraja yang ternyata sulit dilupakan (aiiihiiii, Toraya ko’ tu’), terutama makananannya. Dari kecil dulu, kami berdua memang sudak dijejali dengan berbagai masakan Toraja dari sayur tutuk duku bai, buraq, pamarasan, masak segitiga (nah ini khusus penyebutan di rumah kami), dangkot, papeyong, dan masih banyak  lagi. Jadilah kami sangat akrab berbagai gaya memasak Toraja. Nah, saat perjalanan terakhir ke sana, dua bulan lalu, otomatis salah satu hal yang paling menyenangkan adalah makanannya. Dan entahlah yah, entah karena semenjak gak ada nyokap, sudah beda rasa masakan Toraja di rumah, entah karena dimasakin sama keluarga, atau karena makan di Toraja, atau juga karena resep-resep rahasia keluarga di sana, semua makanan yang kami makan selamat di Toraja terasa jauh lebih nikmat. Apa aja sih makanan yang perlu di coba saat di Toraja dan dipastilan rasanya akan terasa lebih enak saat di sana?

Buraq

BuraqAh, baru nulis namanya aja sudah bikin telan ludah berapa kali. Oh, burag ini salah satu yang sangat gw sarankan di coba saat ke Toraja karena untuk di rumah sendiri sudah jarang buat, terutama karena prosesnya yang panjang. Berbahan dasar batang pisang bagian dalam yang masih lembut, burag ini sangat cocok di masak dengan ayam kampung. Perpaduan irusan batang pisang dan ayam kampung ini menghasilkan makanan yang segar dan gurih. Biasanya bila sudah tersedia buraq ayam kampung, tidak perlu disandingkan dengan menu tambahan lainnya, hanya dinikmati dengan nasi panas, untuk lebih menikmati kekhasan masakan ini. Ahhhhh, batang pisang mana batang pisang

Sayur tutuk duku bai

TutukIni lebih nikmat di Toraja karena alasan yang sama dengan di atas. Sorry, kakak-kakak gw, masakan kalian enak, hanya saja, selama nyokap gak ada, ada rasa yang hilang. Yang gw suka dari masakan Toraja ini adalah kesederhanaan bahan dan bumbunya. Hanya dengan daun singkong yang sudah di tumbuk halus, serai, garam, bawang, dan pastinya daging ba*i (biasanya pake unyak separuhnya). Dengan sajian ini, sama seperti di atas dan bahkan lainnya, gw gak butuh tambahan lain selain nasi panas.😀 dan mungkin abang yang mau temani makan.

Papeyong

Yah, ini lagi papeyong, makanan favorit gw banget. Salah satu derita menulis tentang makanan ini yah begini, ada rasa-rasa perih hanya bisa mengingat rasa yang pernah ada dan belum bisa dimiliki lagi #eaaaaa. Emang jago banget gw kalo curcol begini.

PapeyongKembali ke papeyong, ini makanan yang lebih sulit lagi gw dapatkan. Makanan yang menggabungkan lauk dan sayur dalam bambu kemudian di panggang ini biasanya muncul hanya di pesta-pesta adat Toraja. Dari berbagai pilihan yang mungkin ada, yang paling umum dan gw paling suka adalah perpaduan antara daging ba*i dan sayur bulu nakko. Untuk yang umum biasanya daging ba*i, diganti dengan ayam kampung. Dan sama seperti buraq, saat sudah disajikan papeyong, gw tidak membutuhkan menu lain selain nasi.

Bakso Nguik

BaksoKarena jadi sub-judul, maka daging ba*i, gw ganti dengan nguik yah. Inilah yang gak bisa dilewatkan saat ke Toraja karena di Sangatta, tempat kami tinggal, satu2nya penggilingan yang ada adalah penggilingan umum dan tidak menerima giling daging ba*i (ya iyahlah, mau digiling orang satu Sangatta), jadilah ini adalah makanan yang pertama kami tiba di Toraja. Gw pribadi lebih suka menikmati bakso ini polos, tanpa ada tambahan kecap dan saos, hanya jeruk nipis. Dan benar aja, rasanya jauh lebih nikmat di Toraja. Dagingnya padat dan kuah baksonya segar banget. *netes dah liur gw*.

Pamarasan

PamarasanGreat, bertambahlah derita hati ini karena selain bahan utama pamarasan yaitu, kluwak serta daging buahnya susah didapatkan di Sangatta, secara pribadi, gw sangat pemilih untuk sajian pamarasan. Gw lebih menyukai pamarasan yang di masak sedikit basah tetapi tidak berair dan tidak bergelimangan minyak. Hal ini mengingat gw lebih suka pamarasan daging ba*i dibandingkan pamarasan ikan lele ataupun ayam kampung. Dan setelah mencoba beberapa pamarasan buatan beberapa ratus orang yang berbeda, tidak banyak yang bisa membuat pamarasan seperti disebutkan di atas, herannya, di Toraja, rata-rata sajian di rumah-rumah bisa didapatkan sesuai yang gw suka. Emang sudah akarnya, jadi susah di lawanlah yah.😀

Kapurung

KapurungKalo kapurung ini sebagai tambahan yang lebih enak di Toraja, mungkin bukan karena rasa kapurungnya karena si Ewang adalah ahlinya membuat kapurung, jadi sebenarnya tanpa perlu ke Toraja kami sudah bia menikmati yang enak. Hanya saja, gw berfikir bahwa saat makan kapurung di Toraja atau Palopo, rasa kapurung itu jadi lebih nikmat, bisa jadi karena menikmati di daerah asal. Berasa seperti bertemu kembali cinta pertama yang manis saat sudah terpisah puluhan tahun.😀 yah seperti itulah rasanya.

Okay cukup membahas makanan yang terasa lebih enak di Toraja. Sebenarnya masih banyak, hanya saja gw takut pembaca capek dengan selian-selipan curahan hati yang menusuk di atas.

Oh  yah, selama maminggu.