Jalan-jalan ke Toraja, tetapi tidak berwisata ke makam-makan terasa sedikit ada yang  kurang. Jadi saat kami mengunjungi saudara di Toraja, meskipun berdarah Toraja, kami tetap berperilaku sebagai pengunjung lainnya yang penasaran dengan berbagai macam makam-makan unik dan terkenal di sana. Ini terdengar sedikit aneh mungkin, bila mengingat walaupun lahir dan besar di Kalimantan, darah kami adalah Toraja dan mungkin seharusnya lebih baik berjiarah ke makan nenenk sendiri. Namun, mengingat kampung nenek sangat jauh dan kami hanya memiliki dua hari di Toraja, akhirnya diputuskan untuk mengunjunginya lain kali. Sayang dan terdengar tidak sopan memang, tetapi untuk saat itu, biarkanlah telinga ini panas mendengar ajakan untuk berkunjung ke kampung nenek dan berlaku sebagai turis. Beberapa lokasi pemakaman yang kami adalah lokasi yang sudah banyak tersebar keterangan dan fotonya di jagad raya dunia maya. Oleh karena itu, dengan mudah kami putuskan untuk mengunjungi dari lokasi terdekat dengan Makale ke arah utara di Rantepao.

Lemo

LemoBerjarak sekitar 7 km di utara Makale, Lemo adalah lokasi pemakaman yang pertama kami kunjungi setelah situs Patung Tuhan Yesus Memberkati, Makale. Makam yang ada di Lemo ini merupakan makam khas yang ada di Toraja, terletak di tebing batu, di mana jasad di letakkan di dalam lubang. Berdasarkan salah satu sumber yang saya baca, situs Lemo ini sudah ada sejak 1680. Cukup tua dan masih digunakan sampai sekarang karena saat kami berkunjung, sedang ada kegiataan pembuatan lubang, yang infonya membutuhkan sekitar sebulan untuk membuat lubang tersebut. Dan yang mengejutkan lagi, pembuat lubang ini dibayar tidak murah, harganya bisa mencapai satu ekor tedong (bila itu benar, wow, harganya fantastis sekali). Lemo ini juga terkenal akan keberadaan tau-tau (patung orang).

Selain posisinya yang disebut indah karena ditemani oleh pemandangan sawah, di Lemo juga terdapat beberapa toko souvenir, cocok bagi mereka yang tidak bisa pulang ke rumah dengan tangan kosong setelah berjalan-jalan. Sovenir yang menarik di jual di sini adalah model tau-tau.

Londa

LondaBerbicara tentang makam di Toraja, nama Londa mungkin sangat tidak asing ditelinga para wisatawan. Dari kejauhan, tebing-tebing batu yang berada di Londa ini memberikan pemandangan yang indah dan menyegarkan mata, tetapi saat kita mendekat, suguhan yang tidak bisa dibilang indah, namun pastinya bisa membuat pengunjung terpana karena keberadaan peti-peti dan beberapa peralatan yang diletakkan (mungkin terlihat berserakan) baik di tanah maupun digantung di tebing-tebing batu.

Tidak hanya itu saja, Selain peti yang digantung dengan beralaskan kayu khusus (saya lupa namanya), yang menakjubkan dari Londa adalah variasi peletakan jenasah yitu di liang-liang yang dibuatkan dalam tebing dan juga peti-peti yang diletakkan di dalam goa dan sesuai dugaan saya saat mendengar pemandu memberi keterangan, penempatan jenasah ini berdasarkan kedudukan sosial sesorang di masyarakat. Dari atas adalah puang (gelar bangsawan) dan urutan menurun sampai ke bawah. Biasanya yang masih memiliki hubungan kerabat dengan puang, dengan darah yang sudah memiliki campuran bukan puang atau kerabat jauh.

Londa1Bila tidak mengingat perjalanan panjang yang telah kami tempuh dari Kalimantan hingga sampai ke Toraja dan berkunjung ke sini, saya pribadi tidak akan berani masuk ke dalam goa dan melihat secara langsung peti-peti yang bertumpuk banyak dan juga tengkorak-tengkorak yang ada didalamnya. Selain itu, saya mengingat bahwa berwisata juga salah satunya memajukan perekonomian di daerah tersebut, jadilah dengan pergumulan keras memberanikan diri untuk masuk dan terbukti, berjalan diantara tumpukan peti dan tengkorak manusia bukanlah kesenangan saya, sehingga saya tidak melanjutkan di lintasan yang lebih panjang, hanya sampai di lokasi tengkorak pasangan Lobo dan Andui yang kisah cintanya tidak direstui oleh keluarga.

Kalimbuang, Bori

Matahari sudah sangat menyengat saat kami selesai berkunjung di Londa, sedangkan lokasi yang ingin dikunjungi masih banyak. Setelah menimbang waktu dan tingkat keletihan anggota keluarga yang lain, terakhir kami mengunjungi Kete Kesu dan situs Bori di Kalimbuang. Cerita tentang Kete Kesu kita lewatkan, langung ke situs pemakaman Bori di daerah Sesean. Jujur, keberadaan situs ini baru kami ketahui setelah membaca papan informasi untuk turis yang berada di Kete Kesu’. Dengan sedikit memaksa sepupu, kami akhirnya menuju daerah ini.

SeseanKami mencapai Bori sekitar 45 menit dari Londa. Entah karena kendaraan yang kami tumpangi stabil dengan kecepatan keongnya atau memang perjalanannya sejauh itu. Tetapi tidak perlu khawatir bahwa perjalanan akan membosankan karena saat mulai memasuki jalan yang tidak begitu luas, mata kita akan dijamu dengan pemandangan yang indah dan menyejukkan, hasil kolaborasi antara hamparan sawah yang luas, rumah-rumah adat toraja yang megah dan ukiran-ukirannya yang khas, juga sesekali latar belakang pegunungan dan perbukitan.

BoriTerlebih lagi, setelah sampai ke situs Megalit Bori, Kita disambut dengan pemandangan yang sedikit berbeda dari sebelumnya, yaitu hamparan batu-batu besar diselingi rumah-rumah khas Toraja, dan juga makam-makam di bongkahan batu besar.

Bori1Mengetahui lebih dalam situs Bori sebenarnya sangat menarik buat saya pribadi, sayangnya saat kami tiba di sana, tidak ada satu orangpun yang bisa dimintai keterangan. Bahkan, penjaga lokasi inipun lama munculnya setelah kedatangan kami. Sayang sekali memang, jika saja brosur-brosur yang berisi keterangan atau penjelasan dalam bentuk apapun ada di sana, kunjungan mungkin akan menambah wawasan. Lebih dari sekedar memiliki koleksi foto seperti saya saat itu.

Bori2Meskipun begitu, tetap saja jalan-jalan kali itu memuaskan.🙂

Bagaimana, tertarik mengunjungi makam-makam tersebut?