Alert: Mungkin akan banyak ditemukan sisipan curcol dan gw gak bisa minta maaf untuk itu.😀

Sebulan lagi genap 3 tahun gw tinggal di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu yang berjarak sekitar 160 km dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Selama ini gw singgah di Banjarmasin dan Banjarbaru sebagai perhentian sesaat sebelum kembali ke Sangatta atau sebaliknya, masuk kembali ke site setelah cuti, setiap dua bulan sekali. Itu semua gw bela-belain demi menikmati berbagai macam masakan khas Banjar yang memang dari kecil gw sukai seperti soto ayamnya yang khas dan berbagai macam kudapan (banyak yah?). Anehnya, selama tiga tahun itu baru beberapa bulan terakhir (lupa kapan tepatnya), gw tau ada yang namanya Lontong Orari, salah satu makanan yang ternyata sudah tersohor selama tahunan (ke mana ajah gw??!?). So, demi menuntaskan rasa penasaran, cuti dua bulan lalu, gw lagi-lagi bela-belain untuk mengelilingi Banjarmasin seorang diri (ini curi-curi curhat loh) di pagi hari yang tidak terlalu buta.

Bermodal transportasi perusahaan dan muka tembok untuk bertanya-tanya ke warga sekitar (asli, saat itu gw males banget buka GPS atau peta), gw mencari warung Lontong Orari ini. Setelah mengitari Sungai Siring sebanyak 3 kali (dan untungnya bukan 3 purnama) dan melewati satu jalan sempit pemukiman sepanjang sungai selama sekitar 1,5 jam, akhirnya gw temukan juga tempatnya. Awalnya gw khawatir saat melihat tulisan”Lontong Orari” terpampang besar di luar warung, sebagai tempat gadungan, mengingat saat itu baru sekitar jam 9 pagi, tetapi warung sangat sepi untuk yang sudah sangat terkenal. Berhubung rasa lapar gw sangat mengalahkan rasa kangen penasaran gw , dan sudah cukup lama menanti kepastian dari abang berkeliling, akhirnya diparkir jugalah transport pinjaman ini. Tempat parkir hanya muat sekitar dua mobil (lagi-lagi fasilitas tidak menunjang ketenaran).

Parkir dengan manis, gw masuk ke warung yang ternyata cukup luas dan hanya menyediakan lahan untuk lesehan (sedikit masalah buat pemilik paha besar seperti gw). Masih jam 9 pagi, tetapi yang ada hanya aku seorang diri, tadinya gw pikir ini salah tempat, kenapa begitu sepi, ternyata saat memesan makanan baru gw tau bahwa gw hampir terlambat, menu seperti nasi kuning jam segitu sudah habis, yah walau namanya Lontong Orari, sepertinya nasi kuning tak bisa dilepaskan begitu saja. Selain nasi kuning, ikan haruan (gabus) saat itu tinggal kepalanya saja. Umumnya ini berarti gw sudah sangat terlambat untuk menikmati bagian terbaik dari warung ini.

LontongOrariBaiklah, setidaknya gw tidak salah tempat, untungnya Lontong Orari yang tersohor itu masih ada, dan langsung saja gw pesan porsi normal dan lauk terpisah. Saat dihidangkan betapa terkejutnya gw bahwa porsinya tidak kecil (sebagai menu yang diidolakan untuk sarapan) dan kepala haruanpun lumayan mengintimidasi ukurannya.

Lontong Orari 2Pertama yang perlu di coba dari lontong adalah kuahnya. Sedikit berbeda dari dugaan gw, ternyata kuahnya walaupun gurih karena santan, tetap ada rasa manis-manisnya gimana gitu (sedikit lebay). Gw biasanya tidak terlalu menikmati makanan berkuah yang manis, hanya saja, lontong yang lembut dan rasa gurih yang tetap terasa dari kuah lontong membuat gw memberanikan diri untuk terus menyuapkan pasangan lontong-haruan ke mulut gw yang tak pernah mengumbar kata-kata manis ini (eaaaaa). Terus, sampai tanpa terasa baik lontong, kuah, dan iwak haruan ludes dalam hitungan sekitar 10 menit. Waktu yang tidak hanya membuat gw kaget, tetapi juga beberapa pasang mata di meja sebelah gw yang beberapa menit setelah gw datang mengisi meja itu. Untung saja sedikit tulang-tulang kepala haruan gw sisakan, bila tidak, terlihat sekali kekalapan gw.

Lontong OrariSo, setelah tidak ada lagi yang bisa gw santap dan sudah cukup menurunkan lontong dan kawanannya ke dasar perut, akhirnya gw pergi, tentunya setelah membayar seharga 35 ribu rupiah. Harga yang pantas untuk porsi dan rasa. Sebelum pulang, gw sempat menanyakan ke acil-acil yang ada di dapur yang sedang memetik cabe merah saat itu tentang jumlah cabe yang  mereka gunakan dalam sehari demi membuat makanan yang enak dan tersohor itu, dan jumlahnya adalah sekitar 2 kilogram. Wow. Banyak. Pantas saja rasa manis dan gurih itu tetap tak bisa menutupi rasa perih pedas di makanan yang enak dan memuaskan itu.

Begitulah pengalaman makan Lontong Orari. Tertarik mencoba?

❤ Yuna🙂