Kali ini tentang Jakarta. Gw mau menulis sesuatu tentang Jakarta karena ada satu kegiatan yang sedikit berbeda dari yang biasanya gw lakukan bila berkunjung ke ibukota negara tercinta itu. Bila biasanya ke Jakarta hanya sekedar  transit untuk kemudian menghabiskan liburan di Bandung, atau berjalan dari satu mall ke mall berikutnya untuk makan sambil ngobrol bermacam hal yang umumnya gak penting sama teman-teman, atau hanya sekedar window shopping (iyah gak belanja karena harga barang-barang di semua mall yang gw kunjungi termasuk mahal di kantong gw), ah atau juga mencoba ke tempat lain bukan mall, tetapi tetap mencoba makan, oh yah sesekali ke Ancol atau TMII (banyak yah jadinya), kali ini sedikit cerita tentang menghijaukan mata dari hutan beton Jakarta atau padatnya Jakarta di Hutan Mangrove PIK.

Bersyukur memang gw punya sahabat yang memang sedia melakukan apapun untuk gw asal masih wajar dan gak gila, ide ini juga dari sahabat gw itu karena dia mau memberikan susana berbeda dari sekedar mall. Kunjungan ini sebenarnya sudah kami bicarakan mungkin hampir setahun sebelumnya, berhubung waktu mampir ke Jakarta pendek-pendek dan terhalang berbagai hal, berkunjung ke hutan Mangrove baru bisa terlaksana sekitar dua bulan lalu, saat bulan puasa. Sedikit disayangkan karena tidak bisa mencoba satu hal selama di area Hutan Mangrove ini, yaitu makanan yang ada di tempat makan satu-satunya di Hutan Mangrove PIK. Tetapi tetap ada cerita lain kok.

Hutan Mangrove PIK kami pilih karena paling mudah kami akses, sepertinya ada satu lagi, gw lupa, yang dari cerita banyak pihak, lebih menarik, tetapi lebih ribet, yah, karena ini pasukan tidak mau terlalu ribet, dipilihlah Hutan Mangrove PIK. No other reasons.

Seperti yang sudah banyak diceritakan masuk ke Hutan Mangrove PIK, ada satu peraturan yang agak unik, selain kamera hape dan iPad, tab, atau sejenisnya. Tidak boleh masuk ke kawasan ini, bila tertangkap dendanya bernilai fantastis, 1 juta?!? Kalo tidak salah ingat. Bila mau memasukkan selain itu dipersilahkan membayar sejumlah dana, berhubung kamera hape teman gw cukup lumayan, jadi kami tidak ambil pusing menanyakan harganya. Oops (kalo ada Abang Oma mungkin kemalasan kami ini sudah diteriaki “terlalu!!!”).

Dari pintu masuk kami menyusuri jalan utama yang lumayan lebar dan dilapisi dengan bata-bata semen, jalannya bersih, tetapi untuk perjalanan di siang terik, jalan ini cukup menghantarkan panas, oleh karena itu ada pilihan yang lebih menyegarkan di kiri dan kanan jalan utama, antara lain pengamatan burung, jalan sepeda, dan beberapa jembatan terbuat dari kayu-kayu menyusuri hutan mangrove. Di beberapa jalur pengamatan burung, terpaksa kami lewati hanya karena ketakutan gw terhadap reptil yang beberapa kali muncul di depan jalan. Gak besar memang, tetapi cukup membuat lutut-lutut gw yang tadinya kokoh ini gemetaran, bahkan getarannya sampai ke hati, eaaaaaa dan gw harus minta maaf ke temen gw untuk ini. Sebenarnya dengan penginderaan jarak jauh, burung-burung yang ada cukup menarik, apa daya, apa daya, ketakutan lebih besar.

IMG_6213Berjalan lagi lebih jauh, di sebelah kanan pintu masuk (maaf tanpa peta tak menggunakan arah), terdapat lahan mangrove-mangrove yang masih kecil, hasil sumbangan dari pengunjung, dengan membeli pohon untuk ditanam.

IMG_6214Selain berjalan kaki dan bersepeda, untuk menikmati mangrove atau yang tertarik mengamati setiap detail mangrove, dan hewan serta tumbuhan lain penghuni kawasan ini, pihak pengelola memberikan pilihan lain berupa sarana air berupa perahu, kano, atau speed boat. Tentu saja tidak gratis karena bahan bakar masih beli atau setidaknya perahu dan kano masih butuh perawatan.

IMG_6250Kami lagi-lagi tidak memilih ini karena saat itu sangat terik, mengayuh tanpa modal minum dan belum makan siang di daerah yang berhektar-hektar ini rasanya tidak akan kuat, walaupun melihat beberapa pasangan memperlihatkan semangat mengayuh yang tinggi. Jadi, dengan realistis diputuskan untuk tetap berjalan santai dan anggun di setiap jalur berjalan kaki yang disediakan.

IMG_6212Fasilitas lain dalam Hutan Mangrove PIK adalah penginapan yang sekelilingnya adalah perairan dan hutan mangrove. Penginapannya terlihat sangat tenang.

Karena namanya Hutan Mangrove, gak salah donk kalo sepanjang jalan dipenuhi kenangan pemandangan pepohonan nan hijau bahkan sampai akhir perjalanan. Meskipun demikian, selalu ada yang meninggalkan kesan lebih dalam dalam setiap kegiatan, seperti di beberapa tempat atau sudut-sudut tertentu ada beberapa pemotretan, bukan jadual pemotretan gw memang, tetapi calon pengantin. Menurut gw pilihan yang wajar bila mengingat beberapa area terlihat dramatis dan romantis, terutama jembatan-jrmbatan yang terbuat dari kayu belom dipoles dan atap dari pohon mangrove yang saling bertautan. Ah, romantisnya.

IMG_6247Di ujung suatu jalan, seharusnya kita bisa melihat pantai, tetapi sayang, pembangunan entah apartemen, entah hotel, entah pusat perbelanjaan, menghalangi pemandangan yang seharusnya gratis bagi semua pengunjung. 😥

IMG_6228Kesan terakhir, walaupun seluruh perjalanan mengitari Hutan Mangrove PIK cukup menyenangkan, menyegarkan otak, mata, dan badan, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati. Di jalan masuk ada kerangkeng yang berisi monyet, gw gak tau kenapa, monyet yang ada didalamnya terlihat menyedihkan, bahkan saat kami datangi mereka tidak antusias. Gw jadi ingat monyet liar yang banyak di Sangatta, biasanya saat didatangi manusia mereka menjadi lebih lincah, antara meminta makanan atau sekedar melakukan pergerakan apapun itu. Ah. Semoga saja monyet itu aslinya segar, sesegar badan kami setelah mengelilingi Hutan Mangrove PIK.

IMG_6199Oh iyah untuk info harga bisa baca di sini. Untuk mengetahui tentang Hutan Mongrove lebih dalam bisa buka di sini.

Selamat berakhir pekan!! ❤