Bangkok, 18 Januari 2014.

Sebelumnya mungkin sempat terucap tentang liburan kami ke Bangkok yang salah waktu, yaitu bertepatan dengan gejolak politik di Thailand saat itu, di awal tahun 2014, yang mereka sebut Shutdown Bangkok, di mana para pengunjuk rasa menutup beberapa jalur sibuk di Bangkok seperti jalan-jalan utama pemerintahan dan bisnis. Nah, buat kami yang ingin berlibur, kejadian ini tidak menguntungkan. Selain dikecam oleh ketakutan akan peluru nyasar (berdasarkan info saat itu), tempat-tempat (khususnya belanja) yang sudah kami rencanakan banyak yang ditutup, sehingga rencana liburan harus diubah demi keamanan. Sambil terus mengikuti perkembangan kejadian (sebagian besar dibantu oleh teman kami yang tinggal di Bangkok) dan mengobok-obok peta yang kami cetak di A4, akhirnya ditetapkanlah perjalanan dilakukan di lokasi yang relatif aman. Maka sehari pertama kami di Bangkok ditetapkan dengan mengunjungi beberapa kuil yang terletak tidak jauh dari Khaosan Road.

Wat Ratchanatda

Kuil ini menjadi tujuan pertama kami karena letaknya yang paling dekat dengan tempat kami menginap di Khaosan Road. Gw lupa jaraknya, hanya saja, udara pagi Bangkok yang lumayan sepi saat itu, cukup nyaman di buat berjalan kaki menuju tempat ini. Walau hampir terhasut oleh para scammer dihampir setiap pojokan dan persimpangan jalan, akhirnya setelah sekitar 15 menit tibalah kami di gerbang kuil yang memiliki moto “Kebahagian” ini. Sekilas dari luar, Yuna sudah terkesima dengan arsitektur kuil ini walaupun tidak mengerti sama sekali tentang jenis arsitektur. Pada akhir perjalanan, kami tau bahwa kuil ini memang memiliki desain yang berbeda dengan kuil umum di Bangkok, terutama bagian atap yang dibuat dari logam. Bagian dalam yang berbentuk lorong-lorong juga membuat kuil yang disebut sebagai “Temple of Royal Niece” ini menjadi lebih menarik dan material bangunan yang membuatnya terasa menyejukkan. Menjelajahi setiap lorong, sudut, dan tingkatan kuil ini sangat menarik, di mana setiap tingkatan dan bagian-bagian dari kuil ini memiliki nilai religius sendiri-sendiri. Menurut kami, bila tertarik melihat tempat peribadatan, sebaiknya jangan melewatkan kuil ini.

Kuil ini buka setiap hari dari pukul 09:00-17:00. Tidak dipungut biaya (sebaiknya memberikan sumbangan saat keluar).

The Grand Palace & Wat Phra Kaeo (The Temple of the Emerald Budha)

Bangkok1Setelah menghabiskan satu jam di Wat Ratchandata dan kemudian melakukan perjalanan selama satu jam dengan melalui rintangan scammer yang lebih banyak dari sebelumnya, kami akhirnya tiba di The Grand Palace dan Wat Phra Kaeo. Walaupun setiap pengunjung diharuskan membayar sebesar 500 Baht (sekitar 200.000 rupiah) dan ditambah dengan aturan berpakaian, pengunjung kali ini jauh lebih banyak dibandingkan pengunjung di kuil yang kami datangi pertama.

Bangkok2Dengan harga tiket masuk yang tidak murah, The Grand Palace Complex yang megah ini memberikan banyak pilihan kunjungan, walaupun beberapa tempat tidak bisa dimasuki oleh pengunjung. Saran kami sebaiknya datang di saat matahari tidak terlalu terik dan siapkan air yang banyak agar bisa mengunjungi semua lokasi yang ditawarkan.

Wat Pho (The Reclining Buddha)

Selepas dari The Grand Palace, melawan terik matahari, kami berdua berjalan kaki dengan kecepatan stabil dan tidak lebih cepat dari kaeong, akhirnya kami tiba di kuil berikutnya setelah 25 menit, yaitu Wat Pho (Reclining Buddha). Dengan membayar 20 Baht, kami masih harus berjalan berdesakan dengan pengunjung lainnya menuju tempat di mana patung Budha yang berposisi tidur menyamping ini diletakkan. Sampai di lokasi budha, kami masih tetap berdesakan untuk mencari posisi yang tepat dan terkadang harus menunggu giliran agar mendapatkan foto utuh dari Sang budha yang berlapis emas dengan panjang 34 meter dan tinggi 15 meter.

Bangkok3Selesai berfoto dengan Budha dan mengelilingi Wat Pho, kami melanjutkan ke kuil terakhir.

Wat Arun (The Temple of Dawn)

Perjalanan ke pelabuhan yang akan membawa kami ke Wat Arun tidak selama perjalanan sebelum-sebelumnya, yaitu sekitar 10 menit. Saat dipelabuhan, setelah membayar (kalau tidak salah) seorang 1,5 Baht, kami menyeberang dengan kapal kecil menuju The Temple of Dawn yang kami saksikan malah di kalah matahari akan tenggelam. Masuk ke gerbang depan kuil ini, perorang dikenai lagi biaya yaitu 20 Baht untuk bisa masuk ke daerah kuil dan meniti tangga yang tingginya 79 meter. Walaupun ornamen yang menghiasi setiap dinding kuil yang tinggi tersebut indah, tetap tidak menggetarkan hati kami berdua untuk mau menapaki setiap anak tangga yang ada dikarenakan ketakutan kami akan ketinggian. Dari bawah, kami sudah terintimidasi melihat tingginya posisi mereka yang sudah memanjat sampai ke titik tertinggi dari kuil. Oleh karena itu, kami tidak berlama-lama di sini. Setelah mengelilingi bagian bawahnya, kami kembali menyeberangi sungai dan memilih menikmati Wat Arun dari kejauhan sambil memandang perubahan langit akibat matahari yang tenggelam di balik megahnya Wat Arun.

Bangkok4Di sinilah berakhir perjalanan kami hari itu dalam mengelilingi kuil yang bisa kami kunjungi di Bangkok, dan kemudian kembali ke Khaosan Road untuk berisitirahat demi perjalanan hari-hari berikutnya.