(Pengantar judul ini akan lebih panjang dari angan-angan itu sendiri)

Ada suatu waktu dan mungkin sudah sering kali pada suatu perjalanan, semua hal tidak berjalan sesuai dengan rencana dan begitu juga kami saat liburan di awal tahun 2014 ke Siem Reap, Kamboja , dan Penang. Sebenarnya, melesetnya semua rencana di mulai dari awal perjalanan saat tiba di Siem Reap, terus berlanjut ke Bangkok karena penipuan kelas teri yang kami alami di Kamboja, akhirnya perubahan besar rencanapun terjadi, yaitu tidak jadi mampir ke Laos, dan memilih langsung ke Bangkok yang juga setibanya di Bangkok jadual liburan yang sudah di buat jauh hari bahkan sebelum pohon rambutan di kebun bokap kami berbuah sampai rambutannya bisa di panen di akhir tahun itu tidak bisa dipenuhi. Perubahan rencana di Bangkok saat itu lebih utama dipengaruhi terjadinya pergolakan politik (halah bahasanya), intinya banyak jalan-jalan utama yang ditutup masa demonstran, terutama gedung-gedung yang menjadi pusat keramain. Alhasil, banyak malam yang dihabiskan untuk goler-goler di hostel dan siang hari yang di pakai berputar di daerah sekitar hostel atau yang jauh dari masa pengunjuk rasa demi alasan keamanan.

Okay, kami pikir ketidakberuntungan kami hanya sampai di situ saja, tetapi ternyata tidak, mereka tetap mengikuti sampai kami mau kembali ke tanah air dan singgah sebentar di Penang, tepatnya Georgetown. Kami mengalami penipuan lagi dan lagi di Bangkok (God, kenapa dengan dua makhluk cantik dan jujur seperti kami? Memang kami terlalu rapuh dan rentan terhadap penipuan, apalagi penipuan masalah hati, *masuuuuuk*). Karena kuluguan dan kedunguan, kami tidak berhasil mendapatkan tiket kereta dari Bangkok ke Penang padahal itupun sudah melalui perhelatan panjang, bolak-balik mencari keadilan, ternyata ujung-ujungnya kami harus naik bus malam (ah, batal deh nyanyi lagu Kereta Malam selama di perjalanan). Diperjalan dengan bus malampun kami tertipu (lagi?) diperjanjian awal, bus akan langsung ke Georgetown, Penang, dan sudah tertulis jelas di tiket yang kami beli dan sudah dipastikan saat masih di Bangkok, tetapi kenyataannya, kami berhenti di beberapa tempat (yang gw sudah malas mengingatnya karena udah terlanjur sakit di hati dan badan) dan di pindah-pindahkan dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya. Alhasil, perhitungan waktupun meleset, tiba di Georgetown, sudah sangat sore, dan lenyaplah angan-angan kami untuk mencoba jajanan-jajanan dan makan di tempat-tempat yang ramai dibicarakan seperti rencana diawal, dan dengan sedikit terpaksa kami hanya mampu mengisi perut dengan mie di kedai mie yang dekat dengan perhentian travel. Dan bahkan untuk makan malampun kami hanya sempat membeli bakpau yang untungnya gak ikut-ikutan dengan geng angkutan yang banyak menipu kami sejak di Siem Reap. Bakpau yang kami beli di jalan, walaupun hanya di jual oleh pedagang di gerobak seadanya, di tempat yang sepi dan kami temukan secara tidak sengaja, dan juga harganya murah, kalo tidak kurang lebih 1 ringgit, tetapi rasanya sungguh memuaskan; enak dan dagingnya padat. Gw senang karena berkebalikan dengan bakpau yang sering gw beli di tanah air yang tebalan roti dibandingkan daging isinya. Bakpau ini ternyata cukup lembut dan enak, juga membuat perut kami kenyang, setelah kenyang dengan penipuan.

Bakpau1Ah, itulah alasan yang tidak pendek kenapa wisata kuliner di Penang hanya menjadi angan-angan. Setidaknya kami sudah sempat melihat beberapa tempat makanan yang ramai saat melewati kota kecil Georgetown dan semoga suatu saat bisa kembali lagi. Karena Penang, khususnya kota Georgetown menjadi salah satu kota yang menarik buat kami walaupun dalam perjumpaan yang sangat singkat dan bila ada kesempatan dan keuangan menunjang, kami berdua mau kembali lagi ke sana.

Kami berharap suatu waktu lebih dari sekedar mie ini dan bakpau enak itu.20140121_172347