Ah, semenjak tengah malam tadi, SuDan, Sungai Danau di guyur hujan kecil dengan kecepatan yang gak bisa dibilang lambat dan cukup stabil dan membuat kelas pekerja seperti gw malas beranjak dari peraduan untuk memulai hari, dan berhubung kemarin Tahun Baru Cina (Selamat Tahun Baru Cina, anyway, semoga kita semua selalu dilimpahi berkat dan kesehatan. Amin), rata-rata komentar yang gw dengar dari mulut-mulut teman kantor gw adalah hujan pagi ini berkaitan dengan itu dan selalu mengingatkan akan hari raya tahun baru yang mesti diguyur hujan, sementara gw, malah teringat dengan makanan berkuah, mie atau soto ayam. Hukkkkkkssss, di saat hujan dan orang memikirkan hal yang lain, gw? Hwaaath? Ya sudahlah. Mie instan bisa aja sih gw buat di dapur mess, tetapi berhubung dalam ingatan gw bahwa seminggu ini sudah masak mie rebus sebanyak dua kali dan juga berkaitan dengan hujan, alhasil gw membatalkan niat itu. Mau makan soto ayam khas Banjar, di sekitaran Sudan, tidak ada yang memenuhi kriteria enak buat gw, jadi untuk sarapan mau tidak mau gw kembali ke telur dan kentang rebus, tetapi sebelumnya, menyelesaikan post ini agar sambil sarapan nanti gw bisa makan rebusan itu dengan rasa yang dulu pernah ada eh soto ayam Anang dan Bapukah, dua soto ayam kesukaan gw di sekitaran Kalimantan Selatan.

Soto Anang
Sebagai pencinta makanan berkuah, dari kecil dulu emang gw suka pake banget sama soto ayam khas Banjar. Nah, inilah salah satu alasan yang membuat gw bertahan mencintainya lokasi project gw saat ini, jadi setiap akan melakukan perjalanan cuti, gw pasti menyempatkan untuk mampir ke salah satunya, seringnya Soto Ayam Anang di Martapura karena lokasinya lebih dekat dengan bandara dibandingkan harus ke Soto Ayam Bapukah di Banjarmasin.

Soto BapukahGw sudah mencoba beberapa soto ayam di seputaran Banjarmasin yang terkenal dikalangan wisatawan, tetapi menurut gw, soto ayam yang paling enak adalah kedua soto itu. Penilaian gw untuk rasa soto ayam pastinya kuah, ayam, dan lontong, nah bila semuanya sudah cocok dengan selera gw, ukuran ayam yang gak bikin gw seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, menambah nilai soto menjadi plus plus plus banget. Sehingga, dari kriteria gw di atas, menempatkan Soto Ayam Anang dan Bapukah di urutan pertama di hati. Dari kuah, gw cinta soto yang gak terlalu kental, tetapi juga tidak terlalu encer, yang sedang-sedang saja (penyanyi dangdut banget yah gw), selain itu kuah yang gurih dengan campuran bumbu yang pas, sehingga pas menjadi soto, bukan bumbu diberi kuah, terus ayam dikedua soto itu, sangat bersahabat dengan gigi, walaupun ayamnya mudah lepas dari tulang, tidak lembek dan membuat kita seperti makan bubur dari ayam, dan juga tidak keras seperti mau ajak berkelahi, dan untuk lontongpun kepadatannya optimal. Nah, yang terakhir, nilai plusnya adalah ukuran ayam yang sangat memuaskan. Di Soto Ayam Anang terdapat dua pilihan, 1 potong ayam atau suir-suir, tinggal memilih porsi ayam sesuai kemampuan perut, perbedaan harga hanya 5,000 rupiah, sedangkan untuk Soto Ayam Bapukah tidak ada pilihan, ayam sudah disediakan, dan seperti artinya, porsinya adalah 1 potong ayam yang sudah dipatah-patah (kaya uut permatasari, atau penyanyi dangdut siapa gitu yg goyang patah-patah). Untuk yang perutnya masih bisa dimelarkan lagi, biasanya soto ayam di daerah Kalimantan Selatan yang utuh disajikan dengan beberapa tusuk sate ayam lengkap dengan bumbu kacangnya yang awalnya gw tidak terbiasa, tetapi seiring dengan waktu dan intensitas kedatangan gw, akhirnya menjadi ketagihan dan selalu mengingini untuk kembali lagi, terutama saat-saat hujan seperti ini, saat gw lebih menginginkan kamu tapi gak bisa, yang lebih baik menginginkan soto ayam ajah (#eaaaaa). Soto oh soto, janganlah kau membuatku selalu merindumu juga.

Untuk menu lain di sekitaran Banjarmasin, bisa baca artikel di sini;