Temen seperjalanan gw kemaren lagi dengan semangat bambu runcing mengunduh foto-foto perjalanan kami ke Jepang sebulan lalu ke berbagai media sosial dan juga membuat scrap book yang lucu buat gw karena alasan yang gw tau dia baru memiliki waktu untuk mengenang indahnya perjalanan itu berkaitan dengan kesibukannya. Tapi kegiatan begini-ini, menyesakkan dada bila kita lihat di tengah kesibukan kerja karena keinginan untuk melancong terasa lebih kuat lagi. Akhirnya aksi mengunduh foto-foto ini membuat gw ingat satu hal yang sulit untuk dilupakan, yaitu berfoto dengan Tokyo Tower. Gimana gw gak kebelet? Mengingat dikunjungan pertama, dari semua hal yang memungkinkan untuk dilupakan, berfoto dan mengunjungi gedung yang menjadi lambang perjalanan ke Jepang itulah yang malah terlupakan. Oleh karena itu, diperjalanan kedua, agar tidak kejadian hal yang sama dan kemudian disesali seseal-sesalnya, maka mengunjungi dan bergaya di depan Tokyo Tower menjadi salah satu tujuan utama kami di Tokyo (ini juga sedikit memaksakan kehendak ke Dadiet dan Uchan, gomenasai!).

Tokyo TowerNah, ternyata pencarian Tokyo Tower ini gak semudah di peta gratisan yang gw punya, di peta menunjuk ke satu titik lokasinya, ternyata setelah diikuti lumayan jauh yang membuat kami agak mayun juga. Selain itu, hujan deras yang mengguyur Tokyo di pagi hari mengakibatkan kota ini diselimuti kabut sampai malam hari, sehingga Tokyo Tower tidak bisa terlihat jelas dari kejauhan. Sedih karena seharusnya dari brosur panduan, lokasi yang kami datangi seharusnya menjadi salah satu titik terbaik melihat Tokyo Tower secara gratis di daerah Roppongi tepatnya Kayakizaka-dori (Jalan Kayakizaka). Perlu digarisbawahi gratis (memang modal perjalanan terbatas pada prioritas – prioritas termasuk penggunaan dana bersenang-senang).

Tokyo Tower1Jadi, karena tidak puas akan pemandangan yang berkabut, diputuskan besoknya kami kembali dan menempuh jalan lain. Gw lupa berapa jauh, berapa lama, dan berapa belokan, serta berapa purnama yang kami lalui untuk mencapai Tokyo Tower, yang gw ingat pasti di malam yang dingin itu, kaki kami begitu pegal menempuh perjalanan dari stasiun Roppongi ke Titik di mana Tokyo Tower berada dan juga gw ingat sekitar jam enam, di perempatan jalan, kami melihat penampakan bangunan ini, namun saat itu lampu belum dinyalakan. Oleh karena itu, sesambi melepas lelah, kami dengan cueknya duduk dipingiran toko yang sudah tutup dan menunggu sampai lampu Tokyo Tower dinyalakan.

Tower Tower2

Para penikmat Tokyo Tower
Warga lokal yang juga menikmatiΒ  Tokyo Tower

Sekitar pukul 6 sore, lampu dinyalakan dan juga ikut menyalakan semangat kami yang sedikit padam karena kelelahan sebelumnya, dan langsung saja kami bergegas mendekati arah lampu yang terang benderang tersebut.

Tokyo Tower3Akhirnya, inilah gw dan kaki yang gak bisa dibilang kecil gw, di bawah gedung Tokyo Tower. Resmi, buat gw sudah menapakkan kaki di Tokyo.

Tokyo Tower 5Oh, yah saat gw dan teman-teman berfoto, dibelakan gw terdengar suara kawan-kawan dari Indonesia yang gak kalah hebohnya dari kami, karena sibuk berfoto gw gak memperhatikan siapa mereka dan awalnya gak mempedulikan, sampai saat gw sudah puas mengambil gambar dan berbalik betapa terkejutnya gw bahwa salah satu dari mereka adalah mantan pelatih basket gw di kampus. Yeah, ternyata dunia gak seluas itu, kekekekeke.

Tower4Berhubung malam itu, kami sudah membuat janji makan malam dengan teman gw yang tinggal di Jepang, kami tidak lanjut untuk masuk ke dalam gedung itu sendiridan melanjutkan perjalanan ke lokasi lain yang ceritanya gak kalah seru, tentang pengalaman pertama makan di restoran sushi yang menggunakan conveyor.Tower6