Sudah lama sekali rasanya tidak bercerita tentang perjalanan kami di media ini. Tiba-tiba ingin bercerita tentang suatu senja di Bangkok, dalam perjalanan kami di awal tahun ini (gak terasa yah, sudah dipenghujung tahun). Cerita pertama kami dari perjalanan ke Bangkok mungkin diawali dengan hal yang tak menyenangkan, tentang beberapa penipuan yang kami alami, mungkin itu diawali dengan rasa terhina karena bisa tertipu dan tak berdaya. Tetapi sebenarnya perjalanan ke Bangkok waktu itu juga banyak yang menyenangkan dan mengesankan (ah, bukan seharusnya setiap perjalanan begini yah), salah satunya suatu sore yang membekas di hati dan ingatan dari perjalanan di Bangkok.

Saat itu, kami memutuskan untuk memperlambat pergerakan dan berdiam diri sambil merenggangkan otot setelah melewati sehari penuh berjalan keliling ke berbagai kuil yang bertebaran di kota Bangkok dan sehari sebelumnya melalui perjalanan panjang dan meletihkan melewati batas antara Kamboja dan Thailand. Hari itu kami berencana untuk mengakhiri penjelajahan kuil di Wat Arun, dan kemudian menghabiskan malam di sekitaran Khaosan Road, lokasi kami menginap. Awalnya, kami tidak berniat untuk menghabiskan waktu hanya dengan duduk-duduk dan bercerita berdua karena hal itu sudah banyak kami lakukan di penginapan mengingat saat itu akibat dari kondisi Bangkok yang sedang mengalami gejolak politik membuat kami banyak menghabiskan malam di kamar (T___T), tetapi (lagi?!? Tapi?!?) ketidaksanggupan kami untuk menaiki anak tangga Wat Arun yang gak bisa dibilang pendek itu, memaksa kami balik kanan, mengambil langkah seribu, dan naik kapal, kembali ke ke seberang sungai dan memutuskan menghabiskan sore.

Senja1Setelah sekitar setengah jam mencari tempat makan yang cukup strategis, akhirnya jatuhlah pilihan ke “Eat Sight Story”. Kami berdua jatuh cinta dengan tempat ini, posisi yang tepat berseberangan dengan Wat Arun, pelayanan yang baik, pramusaji yang ramah dan mau meladenin setiap pertanyaan kami sampai akhir walau makanan yang dipesan tidak seberapa dibandingkan banyaknya dan detailnya pertanyaan yang kami ajukan untuk setiap menu yang ada (gak mau rugi uang dan rugi rasa), dan suasana yang nyaman.

Senja2Setelah memastikan pesanan aman dan posisi kursi yang aman dan tak terambil oleh yang lain (ya iyahlah, waktu itu baru kami pelanggannya), dimulailah kenorakan kami (mumpung baru berdua) mengambil foto dari berbagai sudut dan berbagai pose (yang ternyata hasilnya gak ada perbedaan signifikan disetiap pose, duh).

Senja3Saat pelanggan yang lain mulai berdatangan, kami kembali ke meja, dan memaksa diri untuk tidak terlalu pecicilan dan mulai menikmati hembusan angin yang menyapu wajah kami yang manis (jiah) dan rambut kami yang indah, serta menikmati perubahan warna langit dari kelabu sampai jingga saat matahari mulai semakin condong ke barat yang pastinya sambil menunggu pesanan kami dihidangkan dengan perut yang sedikit cemas.

Senja4

Senja5Sambil menikmati semua proses itu, kelelahan dan ketidakpuasan yang kami rasakan karena perlakuan yang kurang berkenan sebelumnya, berangsur menghilang bersamaan dengan tenggelamnya matahari ke belahan barat bumi. Selain itu, kami menyadari bahwa perjalanan tidak melulu tentang mengejar “target” tempat-tempat yang “harus dikunjungi” saat berkunjung ke sesuatu tujuan wisata. Terkadang hanya duduk diam, menikmati setiap waktu yang berlalu dan meyesap semua rasa yang ditawarkan dengan tenang bisa membuat perjalanan bermakna dan memberikan kesan tersendiri. Kesan yang benar-benar hanya kita yang rasakan di saat itu. Mungkin bila suatu hari kita datang ke tempat yang sama dan menawarkan suasana yang sama, kita tidak akan mendapat rasa yang sama.

Senja6

Sometimes a rough holiday makes the best memories. –Allyson Everard-

Senja7