Houtou, nama ini pertama kali gw dengar saat bertandang ke ‘Yamanashi Perfecture’ di Jepang karena ingin melihat keindahan Gunung Fuji dari jarak yang lebih dekat lagi. Gw dan teman-teman saat itupun menikmati mie ini karena diperkenalkan oleh teman lain yang bedomisili di Tokyo; temen gw bilang ini adalah mie khas dari ‘Yamanashi Perfecture’ dan tidak akan ditemukan di daerah lain. Jadilah, karena embel-embel tidak akan ditemukan di daerah lain ini, akhirnya kami mencoba dan kebetulan perut memang kosong setelah berjalan lumayan jauh. Restoran yang kami pilih waktu itu adalah “Hotoh Restaurant” yang tepat bersebarangan dengan Stasiun Kawaguchiko.

HotoDari luar restoran ini sangat menarik, bangunan dari kayu khas Jepang dan terlihat indah dan kokoh dari luar. Saat masuk untuk mencari tempat, kebetulan restoran ini masih kosong, jadi kami memilih meja di pojokan, terlihat ada tempat makan yang bisa lesehan dan ada pula yang menggunakan kursi.

Hoto 1Secara keseluruhan, gw menyukai tatanan bagian dalam restoran ini, sederhana dan hangat. Entah gw yang baru pertama kali mengunjungi Jepang dan Yamanashhi khususnya, menurut gw semua hal yang ada di restoran ini menarik, tata letak kursi, bentuknya kursi, suasana, bahkan gayung sendok yang disediakanpun menarik dan semuanya terbuat dari kayu.

Hoto 2Setelah menunggu sekitar 10-15 menit (gw lupa pastinya karena sibuk ngobrol dengan teman-teman), akhirnya pesanan kami dihidangkan di meja juga. Reaksi pertama adalah kami terkejut, dan reaksi selanjutnya adalah senyum hingga tertawa sendiri. Bagaimana tidak, ternyata Houtou ini disediakan di baskom besi mangkok besi yang ‘sangat’ besar. Tawa kami tambah merekah indah saat melihat tetangga kami di meja lain (yang kami duga sama-sama pelancong) tidak menyembunyikan keterkejutannya saat pesanan mereka disajikan di meja.😀 untung saja saat itu kami tidak memesan seorang satu karena berfikir akan menyantap menu lain saat kembali ke Tokyo. Walaupun Houtou ini disediakan di baskom mangkok besar, jangan khawatir karena disediakan juga mangkok kecil agar makan lebih rapi.

Hoto 3Setelah mengatasi tawa kami dan berfoto dulu (maklum turis, gak boleh protes), kami siap menyantap Houtou.

Hoto 4Melihat sajiannya sekilas, Houtou ini mengingatkan gw terhadap bakmi Jogja karena memberikan kesan yang persis sama saat pertama kali dihidangkan di depan gw, yaitu penampakan yang sederhana. Houtou ini berkuah putih sedikit kekuningan dan lebih kental dengan mie yang lebih tebal dan lebar dibandingkan ramen, selain itu, hiasannya tidak seramai ramen. Houtou ini mungkin menu yang cocok untuk vegetarian karena dasar sup dari labu, dihidangkan dengan sawi putih, potongan tahu, sedikit irisan wortel dan buncis, serta dibubuhi kacang (ntah kacang apa namanya).

Hoto 5Saat gigitan pertama, gw juga sedikit terkejut (maaf yah banyakan terkejutnya) karena diluar dugaan, Houtou yang sekilas sederhana ini sangat nikmat, walau gw susah membedakan karena kami makan saat perut sudah keroncongan atau memang Houtou yang sederhana, dengan bumbu yang tidak terlalu menyoloh di lidah, dan dihidangkan panas ini sangat cocok disantap di udara dingin ‘Yamanashi Perfecture’. Karena rasa yang nikmat, akhirnya sedikit demi sedikit, Houtou ini mengenyangkan dan menghangatkan hati tubuh kami yang sebelumnya kedinginan.

Hoto 6Setelah kami menghabiskan 3 mangkok Houtou yang kami pesan (sampai kuah-kuahnya), kami kembali berbincang sambil menunggu Houtou diproses lebih lanjut di perut kami dan menikmati pelanggan lain makan di sekitar kami karena restoran yang awalnya kosong itu, akhirnya terisi penuh.

Hoto 7Dengan sebaskom Houtou senilai ¥1000 dan pengalaman, serta kepuasan yang didapatkan kami kembali ke Tokyo dengan rasa puas.

Hoto 8