Setelah melewati perjalanan panjang dengan bergantian menggunakan bis dan minivan dari Bangkok selama sekitar 18 jam dan sedikit adu urat dengan beberapa agen di tempat persinggahan, serta berhasil membuat kami menua di jalan, akhirnya tiba jualah kami di batas Thailand dan Malaysia, Butterworth, Penang.

Penang 1Dari Butterworth kami masih menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk mencapai kota Georgetown, masih dengan minivan melalui Jembatan Penang yang penmandangannya menyegarkan mata. Walaupun sangat disayangkan waktu berkunjung di kota ini hanya beberapa jam karena kami harus mengejar penerbangan dari Penang ke Kuala Lumpur, namun perjalanan singkat di kota kecil yang terkenal karena telah ditetapkan oleh UNESCO menjadi kota warisan dunia ini sangat berkesan.

Saat pertama menjejakkan kaki di Jalan Chulia, sambil meluruskan kaki yang selalu berada diposisi tidak nyaman seharian, mata kami dimanjakan dengan pemandangan kota tua yang terawat, bersih, sederhana, dan tetap sibuk dengan berbagai aktivitas.

Georgetown1Melihat keramaian pedagang kaki lima dan segala aktivitas didalamnya dan berdampingan dengan kesibukan para wisatawan, membuat kami begitu bergembira, rasa gembira yang bisa mengalahkan rasa lelah, sedikit aroma berbeda dari tubuh akibat perjalanan panjang, rambut lepeh, wajah kucel namun tetap mempesona.

Georgetown2Dari awal kami sudah menjadualkan beberapa lokasi yang harus kami disinggahi di waktu yang terbatas tersebut, namun sayang sungguh sayang, kami yang gak belajar-belajar dari pengalaman sebelumnya ini, tetap pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa waktu yang sempit itu tidaklah bisa mewujudkan semua rencana. Jadilah diketerbatasan waktu, setelah menyempatkan makan di kedai kecil di sekitar Lebuh Chulia, kami memutuskan untuk melihat-lihat koleksi “Georgetown’s Street Art”, yaitu berbagai macam karikatur yang terbuat dari besi dan beberapa lukisan di dinding yang dimodifikasi dengan berbagai barang dan tersebar secara acak.

Georgetown3Jadilah sepanjang jalan kami bagai dua anak kecil yang tertatih-tatih seperti sedang bermain mencari harta karun. Alasan lain aksi ini menjadi satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah, waktu yang sudah terlampau sore membuat kami tidak bisa memasuki gedung-gedung bersejarah yang ada. Oh yah, untuk mengeliligi daerah Georgetown khususnya area UNESCO Site, ada shuttle bus yang bisa memutari semua daerah tersebut, jadi kita bebas naik dan turun melalui halte yang sudah disediakan. Untuk menggunakan bis ini lihat saja “Free CAT Shuttle bus”, walau menurut kami, bila tidak terburu-buru, berjalan kaki adalah hal yang paling baik untuk dilakukan, yah, bila tidak sanggup, bisa diselang-seling dengan naik bis gratis; murah, meriah, dan sehat.

Georgetown4Pencarian koleksi seni ini kami lakukan sampai matahari bear-benar tenggelam di sebelah barat dan lensa mata maupun lensa kamera yang seadanya sudah tidak sanggup menemukan moleksi tersebut. Setengah delapan malam, kami mengakhiri perjalanan ini di Pangkalan Weld, sekaligus menunggu RapidPenang bis dengan no 401E ke Bayang Lapas, bandara Penang. Tepat setengah sembilan malam, bis yang kami tunggu tiba, dengan sekitar setengah jam perjalalan kami sampai di bandara Penang, dan berkeliling bandara sambil menunggu waktu terbang dan berbelanja sedikit oleh-oleh. Hanya sedikit.

20140121_193709Yah, itulah akhir perjalanan kami di Georgetown awal tahun ini. Bila ada kesempatan untuk ke Georgetown dan sekitarnya, kami ingin menghabiskan waktu lebih lama di sana. Sungguh.

Georgetown5Sampai berjumpa lagi Penang. (\^0^/)