Rentetan cerita dari perjalanan penjang selama delapan hari; bener, gak ada habisnya kalo mau diceritakan setiap guratan emosi yang terjadi satu-satu selama delapan hari itu, jadi yang akan diceritakan ini salah satu yang kalo disimpen bikin gatel. Cerita kali ini adalah tentang musuh (scam, penipuan, red) selama beberapa hari di Bangkok dan sekitarnya. Sepertinya ini adalah hal yang lumrah, tak terpisahkan, dan berbanding lurus dengan popularitas sebuah tujuan wisata. Hal ini berlaku juga untuk Thailand, bahkan banyak.

Sebelum melakukan perjalanan ke Bangkok, gw sudah mempersiapkan diri dengan berbagai macam informasi tentang tourist scam yang banyak terjadi di Thailand khususnya Bangkok. Semua gw baca, dari berbagai sumber (khususnya internet) yang gw harapkan saat tiba di sana kami gak akan kena tipu dan pada akhirnya kami tetap tertipu.

Selama kami di Bangkok ada tiga scam yang kami temui, satu selalu bisa kami lewati dengan berbagai cara; dari ramah sampai akhirnya pake emosi, yang kedua dan ketiga kami beneran emosi karena tidak berdaya melawan, benar – benar tau lagi dibodohi habis-habisan, tapi gak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti.

Pertama, orang ramah dan dengan baik hati menunjukkan jalan saat kami memegang tiket dan ujung-ujungnya maksa kita naik tuk-tuk ke daerah yang jarang dikunjungi atau memang kurang menarik.

Tuk-tuk scamTipe penipuan pertama ini mudah disadari walaupun di hari pertama kami sempat membuang beberapa menit dari waktu kami yang berharga karena meladeni salah satu dari mereka. Dari pengamatan kami di lapangan (cah iye, berhubung saat kami ke Bangkok, lagi ada demo anti-pemerintah besar-besaran, beberapa daerah strategis di tutup, alhasil kerjaan hanya goler-goler dan muter seputar Khaosan dan mengamati orang), target mereka adalah turis-turis yang membawa peta dan terlihat pelongo-pelongo atau kebingungan. Setelah mereka melihat jenis yang disebutkan sebelumnya bisa diterjang (seperti kami di hari itu), tiba-tiba tanpa disadari, penipu akan muncul ntah dari mana, dan bagi orang yang polos (lagi-lagi seperti kami :D) akan merasa mereka begitu ramah dan baik, kemudian mendengarkan penjelasan mereka yang bila didengarkan dengan seksama, lama – kelamaan akan terasa kejanggalannya. Hal lain yang menarik adalah penipuan ini ada di persimpangan-persimpangan tepat sebelum kita sampai di destinasi utama, saat itu yang kami temukan seperti di persimpangan ke arah Grand Palace dan Wat Phra Kaeo, Wat Pho, Wat Arun, Wat Rachanatdrama, dan Wat Saket. Jadi, saat akan berkunjung ke kuil yang megah dan bagus, bila tiba-tiba disamperin orang yang beramah – tamah (palsu) ingin menunjukkan jalan dan menawarkan paket memutar kuil dengan tuk-tuk yang murah, dapat dipastikan kita sudah semakin dekat dengan tujuan utama. Yakinlah, tinggal melangkah sedikit lagi akan sampai di kuil utama. Oh yah, waktu akan ke Grand Palace, kebohongan mereka sedikit menjengkelkan karena mereka bilang bahwa Grand Palace tutup karena demo atau saat ke sesuatu kuil bagus mereka akan bilang kuil itu tutup karena itu jam ibadah penduduk lokal, dan lebih baik kita melihat kuil lain dulu dan pastinya menggunakan tuk-tuk yang sudah siap dan kalo mau diperhatikan berjarak beberapa meter dari kita. Parahnya penipuan ini bila melihat kita agak pinter sedikit, mereka sudah mulai sedikit memaksa, nada mengancam, dan cenderung kasar.

Tips kami melewati cobaan pertama ini adalah bila mereka masih belum memaksa, cukup bilang tidak, terima kasih, kami sudah ke sana. Bila sedikit memaksa, katakan tidak dengan tegas, sambil melengos pergi, kecepatan kaki ditingkatkan, dan jangan sekalipun melihat ke arah mereka. Abaikan (sambil berdoa kenceng dalam hati saja agar mereka gak kasar).

Kedua, tiket kereta di Stasiun Hualalamphong yang habis, tetapi bisa dengan mudah didapatkan di calo berkedok agen perjalanan dalam stasiun.

Train ticket scamKasus kedua ini mungkin lebih tepat bila disebut calo tiket. Ini mengesalkan juga, saat itu mungkin memang salah kami, begitu pede berasumsi bahwa memesan tiket sehari sebelum keberangkatan langsung di stasiunnya akan seperti di Indonesia yang bila bukan hari raya dan hari libur lainnya gak perlu takut kehabisan. Ternyata kami salah besar, hidup memang gak berjalan seperti asumsi kita, tapi kebiasaan penduduk lokal! Kalo ingat ini dayum banget dah (dayum = makian la gw). Saat itu, kami ingin memesan tiket dari Bangkok ke Butterworth (Penang), dengan pedenya kami melaju ke Stasiun Hualalamphong sehari sebelumnya. Mengantri dengan muka harap dan optimis ternyata tidak menghasilkan hasil yang diharapkan, kasir bilang tiket habis, oke, rencana kami ganti, pergi dengan bus malam saja. Akhirnya memutuskan ke bagian informasi, setelah mendengar penjelasan panjang bahwa tiket bus bisa diperoleh di agen resmi yang ada di stasiun yang sama, kamipun kembali berharap hal yang baik. Menghampiri travel agent , betapa terkejutnya kami, pertama dengan pelayanan yang sama sekali tidak ramah, saat menjelaskan sedikit mengancam, kedua mereka tidak menawarkan tiket bus yang kami tanyakan sama sekali, dan yang ketiga dan terparah adalah mereka dengan tidak malunya menawarkan kami tiket kereta yang harganya bertambah 50% dari harga normal, dan gw, yang tidak bisa menerima penjelasan itu, dengan menahan kekesalan (yang ternyata gagal) menanyakan bagaimana mereka bisa punya tiket, sedangkan kami beberapa menit sebelumnya diinfokan tiketnya habis. Panjang lebar mereka menjelaskan, intinya adalah praktek calo seperti kita juga, cuma ini lebih ekstrim karena si ibu judes empunya travel agent dengan sedikit geram bilang ke gw bahwa kami beli atau gak tiket yang udah mereka pegang, kereta akan tetap jalan, ada atau tanpa penumpang, dan ditambahkan bahwa mereka gak rugi kalo kereta berangkat kosong karena tiket yang sudah mereka beli tidak laku. What??? (dalam hati nyesek mau nangis) dan karena kesel, emosi mengalahkan logika, terlebih lagi mengalahkan pengetahuan gw tentang kerasnya praktek calo di Bangkok dan sekitarnya, akhirnya kami gak beli tiket itu, dan inilah yang unjung-ujungnya ternyata membawa kami ke masalah berikutnya yang besar.

Tips untuk kasus ini satu-satunya cara (yang bisa gw pikirkan) adalah hindari calo dengan memesan tiket jauh hari secara online.

Train ticket scam2Ketiga, bus malam dari Bangkok ke Penang yang gak sampai Penang

Kasus ketiga ini adalah masalah yang timbul akibat kekerasan kepala gw dan emosi yang mengalahkan pengetahuan gw tentang kerasnya perjalanan darat dari Bangkok ke Butterworth (Penang). Ya, setelah gak mau beli tiket kereta di calo (saat itu harga normal perorang dewas adalah 1200ß dan di karbit oleh calo menjadi 1800ß, 1ß = Rp 400), akhirnya kami memutuskan untuk beli tiket bus malam dari hostel kami menginap. Ini kami pilih karena harga yang termurah diiantara beberapa agen, selain itu, selama 4 hari di Bangkok, pemilik hostel ini sangat membantu dan ramah, jadi kami percaya mereka tidak akan menipu kami secara berlebihan (dan sepertinya salah).

Hari keberangkatanpun tiba, jam 6 sore kami dijemput dengan cara yang sudah menyebalkan. Penumpang dijemput dengan jalan kaki dengan mba yang cantik, dan beberapa kali berhenti dibeberapa penginapan untuk menjemput penumpang lain. Setelah putar-putar sampai gempor akhirnya sampailah kami di tempat berkumpul yang sudah sesak dengan berbagai macam penumpang ke berbagai tujuan di Thailand. Disitulah gw pikir masalahnya dimulai, dimana tiket yang kami punya diminta dan hanya diganti dengan sticker kecil bertuliskan daerah tujuan setiap penumpang yang ditempelkan di dada (dan dapat dipastikan mudah lepas). Hal ini sepertinya tidak bisa ditolak karena bagian pelaksana melakukannya dengan lincah dan dengan lugas menunjukkan wajah gak mau ditegur atau ditanya, kalaupun kita tanya mereka cuek dan melengos, kita gak bisa nolak karna semua orang begitu saja menerima seolah-olah hal itu lumrah. Saat itu gw mulai panik dan kesal.

Jam 8 malam bus datang, setiap penumpang diarahkan ke bus masing-masing dan kami memilih kursi di belakang (tadinya biar aman). ternyata, di bagian paling belakang sudah diisi beberapa turis dari Jerman dan Prancis yang sudah mulai mabuk. Perjalanan malam masih aman walaupun diiringi rasa ketakutan karena beberapa turis dari Jerman dan Prancis yang ternyata mabuk. Jam 7 keesokan paginya kami sampai di Surat Thani dan ditransfer ke minibus, dan disinilah penipuan itu di mulai. Kami pikir akan di bawa ke penampungan seperti malam sebelumnya, ternyata tidak. Kami yang hanya berdua ke arah Penang ini dibawa ke sesuatu tempat yang hampa, hanya berisi 1 meja dan beberapa kursi plastik, dan seorang ibu-ibu berbadan sebesar kami tapi bertampang gak seimut kami. Kami pikir akan menunggu angkutan berikutnya yang hanya Tuhan dan mereka yang tau seperti apa jenis angkutannya. Tetapi ternyata kami salah karena Ibu itu yang awalnya ramah (palsu) menjelaskan bahwa kami harus membayar uang masuk imigrasi Malaysia dan meminta kami membayar 400 ringgit seorang (gak masuk akal) dan pastinya gw yang sudah punya bekal banyak tentang penipuan ini sangat sadar bahwa kami sedang ditipu dan dengan tegas bilang tidak dan dengan halus menolak sambil menjelaskan bahwa nanti saja kami bayar diimigrasi Malaysia. Tapi ibu ini berkeras bahwakami harus bayar, dan gwpun berkeras gak akan bayar itu. Setelah perhelatan panjang (dan sepertinya gw salah), ibu itu merubah kalimatnya menjadi itu adalah bayaran untuk tiket ke Penang sambil menanyakan mana tiket kami yang pastinya dia tau gak ada. Gw masih tidak mau kalah bilang sticker di dada (yang sama sekali gak ada kekuatan hukumnya) itu adalah tiket kami (bodoh gak sih?) dan ibu itu sambil senyum sinis menolak sambil memberi tanda kepada supirnya agak tas kami diturunkan dan lanjut menyuruh kami menungu dua hari lagi bus yang bawa kami dari Bangkok untuk ke Penang. Stress. Setelah capek menahan geram dan ibu itu semakin emosi, gw juga bingung mau ngapain dan bagaiman lagi akhirnya kalah dan memberikan 200 ringgit gw (peringatan, ibu ini tidak menerima bhat, hanya mata uang luar, aneh). Setelah membayar (sambil nangis dongkol dalam hati), kami diantar ke terminal minibus sebenarnya dan diantarkan ke perhentian berikutnya di Hat Yai, kemudian George Town (Penang). Sakit, saat tau ditipu terang-terangan.

Scam sleeper busTips bila sudah terlanjur berada di posisi seperti kami diatas, tetap tahan emosi karena bila kita marah mereka semakin berkeras. Bila mereka sudah mulai malah berbohonglah siisa uang kita hanya sedikit sekali. Bilang saja tidak ada uang selain bhat (semoga percaya). Dan terakhir kalo  mau memaki dalam hati saja.

Tambahan yang mungkin bukan scam tetapi ketidakjujuran penjual di sepanjang Khaosan Road yaitu pastikan harga makanan satu per satu sebelum memesan karena pembelian pertama kami tertipu dengan penjual makanan yang menjual makanannya dengan harga selangit. Yaitu makanan semacam lumpia basah bandung, toge tumis campur telur, yang kami lupa tanyakan harganya sebelum membeli dan tiba-tiba saat bayar diminta 100ß dan kami kaget mengingat itu adalah cemilan dan ternyata setelah melihat gerobak lain harganya paling mahal hanya 50ß. Ini kami lupa tanyakan karena kamimembeli cemilan lain seharga 20ß. Selain itu pastikan setiap peringatan yang tertulis di gerobak khususnya makanan ekstrim karena hanya dengan memotret atau merekan dikenakan biaya. Keras. Hidup itu keras.

MakananItulah penipuan yang kami alami selama di Thailand. Pejalan yang lain pernah ditipu apa selama dalam perjalanan?