Pagi – pagi buka ‘Senang Senang Yuks’, ternyata kotak merah di pojokan kanan atas berubah jadi orange ditemenin lambang bintang, ehm artinya someone liked one of our story. Saat gw buka, cerita tentang Katoomba dan Anzac War Memorial yang keren itu, senengnya karena buat gw sendiri, kedua cerita itu emang berkesan dalam. Nah lanjut cerita seperti biasa bila ada yang meninggalkan jejak di suatu cerita, gw membuka lagi, membaca lagi apa hal yang membuat cerita itu disukai ataupun diberi komentar. Singkat cerita saat gw baca cerita Katoomba, melintas ingatan bahwa hari itu dahsyat, dan sebenarnya sehari itu, cerita gak berhenti di Katoomba saja. Pulang dari sana, kami gak langsung istirahat walaupun keesokan harinya rute lebih panjang. Tapi menyempatkan untuk menyinggahi beberapa tempat. Begitu juga hari-hari berikutnya. Jadi, cerita kali ini tentang bagaimana gw dan teman – teman seperjalanan menghabiskan malam – malam di Sydney.

Malamnya Woolloomooloo

12 Oktober 2012, malam sehabis hujan mengguyur kota Sydney dengan tujuan utama menikmati desert yang terkenal rasanya (padahal belum sempet makan malam) di Harry’s De Wheel Cafe. Walaupun habis diterpa badai salju di Katoomba yang membuat rambut lecek (kebetulan kami bertiga concern banget kondisi rambut), baju lembab dan kusut, serta muka yang gak kalah kusut dari baju, tidak menyurutkan semangat kami untuk mencari cafe ini. Kenapa butuh semangat? Karena malam itu saat sampai d hostel, kami hanya punya waktu satu jam untuk jalan, mencari kedai, dan memesan pie. Berhubung kedai tutup jam delapan dan waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, ditambah kesadaran bahwa perut sudah dibiarkan kosong terlalu lama, jalan santai bukanlah pilihan, jadi sambil membaca peta (denah tepatnya), kami berjalan sangat cepat melalui Victoria Street menuju Woolloomoolo Bay di utara. Tidak sampai 10 menit kami sudah sampai di ujung jalan dan bau pie enak sudah tercium dari arah barat (jaraknya gak sampai 500 meter), tapi..masalahnya adalah, karena sudah hampir jam delapan, jalan di ujung itu sudah ditutup. deadlock. Maka paniklah kami, waktu semakin mepet, perut semakin kerocongan, balik muter gak mungkin, jadilah kami bolak – balik mecari bala bantuan. Tadinya mau memohon ke si penjaga pintu biar dibukain pintu pagar atau kalo gak boleh manjat pagar sekalian. Pilihan terakhir, di saat sudah putus asa, bener-bener mau kami lakukan karena pagarnya seperti mudah di lewati, tapi kesadaran muncul gimana kalo besok di koran ‘Sydney Morning Herald’ muncul; “Three stupid tourists were caught leap over the hedge of stones illegally because of pies.” Ngikkkkk, jadi deh batal loncatin pagarnya. Namun, di tengah kegalauan kami, tiba – tiba muncul seorang wanita, tanpa malu kami serang dengan pertanyaan, ‘Bisa tunjukkan kami pintu lain menuju Harry’s?” dan jawabannya sangatlah membahagiakan kami karena ternyata ada pintu satu lagi yang tak terlihat sebelumnya, dan hanya berjarak beberapa meter sebelum ujung jalan. Oh, bahagia dan sedikit malu, hampir saja kami menjadi berita, pede, kekekekeke.

Singkat cerita, 20 menit sebelum tutup akhirnya kami sampai di kedai, memesan pie yang diingini ke abang ganteng yang sedang bertugas (sumpe gw kesengsem sama abang penjaga kedai, wajah Jepang dan senyuman manis, oh abang).

Harry'sSetelah perut terisi dengan pie yang rasanya ternyata emang enak, mungkin juga percampuran antara rasa lapar, bahagia karena perjuangan mencari kedai ini, dan ditambah pelayanan ramah dari abang berwajah ganteng. Perjalanan dilanjutkan mengingat kaki masih kuat. Kembali ke titik awal, kami mengambil jalan yang sejajar dengan Victoria Street di bagian barat (jalan ini sepertinya tidak dilewati kendaraan umum, sepi, padahal baru sekitar jam setengah sembilan malam). Menyusuri jalan yang berbelok-belok dan lebih kecil, demi menghindari suara gongongan anjing yang menyeramkan, dan jalur ini akhirnya membawa kaki kami ke pojokan jalan yang ternyata terdapat satu bar yang ramai sekali dengan suara musik yang kencang dan suara dari percakapan pengunjungnya yang gak kalah kenceng. Menurut kami saat itu kami sudah sampai di pusat dunia malam King Cross (daerah ini memang pusat hiburan malam), awalnya pengen mampir, berhubung gak bisa sampai larut malam dan gak yakin akan suasana bar tersebut, kami memutuskan untuk berbelok ke arah timur dengan lintasan pendek namun sedikit menanjak, dan trararara…sampailah kami di persimpangan utama King Cross dan di sambut dengan ‘Billboard Coca Cola’ yang besar itu.

Coca cola So, sebentar mengabadikan momen, kami lanjut  berjalan tanpa arah, kali ini di jalan yang paralel dengan Victoria Street di sebelah timurnya. Sebenarnya kenapa sih paralel? Biar kami lebih mudah saat pulang nanti, siapa yang mau  memegang peta sepanjang hari saat momen begini??

IMG_0406Benar memang kalo di sepanjang jalan ini disebut pusat hiburan malam. Yang ada hanya cafe-cafe dengan musik yang kencang, bar-bar dengan musik tidak kalah kencang, diskotik, adult shop, hostel-hostel, dan disesaki oleh muda-mudi (mungkin gak muda juga yah). Sambil cekikikan kampung, kami terus menyusuri jalan dengan pemandangan khasnya ini, hingga langkah terhenti di salah satu toko yang sedikit berbeda dengan jajaran toko lainnya, yaitu toko coklat, yupssss, menemukan toko coklat di tempat seperti ini rasanya mengagumkan, ditambah coklat-coklat yang dijual dikemas dengan unik dan imut, belum lagi penjualnya dengan senang hati menanyakan asal negara setiap orang yang datang ketokonya. Selain itu, penjual yang sangat ramah, lincah, dan sedikit ‘talk-active’ ini memberikan masing-masing dari kami tester coklat (saat itu kami jadi berenam loh yah karena Lizty ketemu temen-temennya, jadi gak dikit tester-nya. Buat gw yang selalu terpanggil untuk beli coklat saat jalan-jalan, seneng rasanya liat toko ini, setelah lama memilih-milih bentuk apa yang di beli, akhirnya pilihan jatuh ke coklat berbentuk ‘piggie’ untuk ponakan dan ade’ gw yang mengoleksi karakter itu. Sekantong coklat harga dan jumlahnya bervariasi, bila tidak salah ingat sekitar $5 – $11 AUD (yang gw beli).

CoklatSetelah keluar dari toko coklat, kami terus aja menyusuri jalan itu, ke arah utara, sampai akhirnya mentok dan ketemu air mancur “‘The El Alamein Memorial” yang lagi-lagi didedikasikan untuk mereka yang berjasa bagi Australia pada saat Perang Dunia dan kali ini PD II.

El alamein fountainSetelah puas berfoto dan merasa sudah cukup lelah, kami kembali ke hostel yang hanya ditempuh sekitar 5 menit berjalan kaki dari air mancur ini. Dan berakhirlah hari ini.

IMG_0424Gimana malammu saat jalan – jalan?

Advertisements