Hari ke empat setelah mendarat pertama kalinya di Sydney dan sekitarnya. Setelah melewati badai salju di Katoomba, dan dalam 12 jam kemudian menikmati bunga-bunga musim semi bermekaran dengan cantiknya di Canberra, di hari ini (14 Oktober 2012) berkeliling, berputar, belanja oleh-oleh, nge-bar, di kota Sydney sampai puas, sampai puas. Puas sepuas puasnya, yang ngalahin lagu rindu serindu rindunya (apa seh). Kejar setoran seperti ini dilakukan seperti supir angkot ngejar penumpang di jam-jam terakhir, nah begitu juga kami, kejar tempat-tempat yang bisa dikunjungi bersama di jam-jam akhir kebersamaan ini karna Liz sama Ana balik tgl 15 Oktober dan gw masih nambah berapa hari, yang artinya masih ada beberapa cerita😀. Ceritanya dimulai dipagi hari yang cerah (langit emang mendukung perjalan kami).

Sydney one day map
Sydney one day map

Menikmati bangunan cantik di George Street

Dari hostel, kami sengaja berhenti di Town Hall station yang ada di Bathrust street yang ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dengan city tram dan biaya AUD 3.40. Tujuan kami adalah melihat Queen Vicoria Building (QVB); Romanesque Revival Style, 1898, yang juga berfungsi sebagai mall barang-barang branded. Ternyata saat naik di permukaan, beruntungnya kami ngelewatin Saint Andrew’s Cathedral (Gothic Revival Style, 1837, Anglican Church), dan Sydney Town Hall (Victorian Second Empire Style, 1880s). Puas menikmati bangunan bersejarah yang cantik dari luar, perjalan kami lanjutkan ke Darling Harbour menyusuri Market Street.

George Street Buildings

Menyusuri ketenangan Darling Harbour di pagi hari

Di Darling Harbour ini banyak wisata yang ditawarkan, tapi berhubung kami kepagian ke sananya, jadual padat, dan tujuan utama belanja oleh-oleh di Paddys Market, Chinatown, jadi di sini kami lagi-lagi hanya menyusuri jalan-jalan yang masih sepi (dibandingkan malam), selain itu sejujurnya kami gak terlalu interest dengan yang ada di lokasi ini, kecuali makanannya. Jadi tanpa mau membuang uang, satu jam di sini cukup kami isi dengan berkeliling, mengambil sudut-sudut yang perlu diabadikan, sambil menikmat segar dan sejuknya udara di Darling Harbour.

Darling Harbour

Belanja Oleh-oleh di Paddys Market, Chinatown, Market Street

Nah, ini dia salah satu saat yang paling ditunggu-tunggu saat plesiran ke suatu daerah, tempat belanja souvenir dan yang pastinya murah (untuk sekampungan, bo). Ya, berhubung seperti barusan yang gw bilang, oleh-oleh untuk sekampung, jadi kami pilih Paddys Market di Chinatown ini sebagai pusatnya karena barangnya relatif paling murah untuk daerah Sydney dan tentunya hal ini juga sebanding dengan barang-barang yang ditawarkan yang sebagian besar buatan China. Di sini berbagai macam souvenir yang berbau Australia dan Sydney khususnya lengkap ditawarkan; magnet, kaos, boneka, miniatur, gantungan kunci (terutama koala kecil-kecil sekecil u**l yang gantung di bendera Australia itu), tas, boomerang, dan masih banyak barang lainnya. Barang-barang bervariasi. Waktu itu gw beli magnet $5-$10 (isi 2/3, tergantung bahan), hiasan meja $5-$10, boneka $50-$75, gantungan kunci $5-$15(isi 6, tergantung bahan), Kaos anak-anak $6 (dapet diskon karena yang jual orang Indonesia yang lahir besar di Sydney), Kaos dewasa $8, dan sisanya gw lupa. Oh yah semua harga dalam AUD, Australian Dollar.

Paddys

Plesiran ke Bondi Beach

Puas berbelanja dompet bolong dan terganti dengan kantongan yang ngalah-ngalahin buntelan Santa Claus, kami memutuskan kembali ke hostel (secara gempor) dengan menggunakan City tram yang menempuh perjalanan selama 5 menit ke King Cross station dari George station. Cukup beristirahat, Ibam menjemput kami untuk segera berangkat ke Bondi beach. Sekitar 20 menit kemudian sampailah kami di Bondi Junction, kendaran sengaja di parkir di mall, agar kami bisa merasakan naik bus. Dengan biaya $5 dan waktu tempuh 20 menit sampai juga kami di Bondi beach. Langsung saja beli “fish and chips” seharga $40 (porsi berlima) untuk dinikmati sambil memandang pantai yang terhampar luas dengan butiran pasir yang putih, pantai yang bersih, dan angin yang dingin. Saat di pantai ini, gw merasa bersyukur tinggal di Indonesia yang disinari matahari sepanjang tahun walaupun bikin kulit legam karena di sini, orang seperti begitu haus sinar matahari, mereka bahkan beramai-ramai berjemur di suhu dingin (sekitar 150 C).

Bondi 2

Jam 5 sore, kami memutuskan untuk kembali ke Bondi Junction karena masih perlu mampir di Max Brenner, coklat lokal dari Australia. Untuk mengisi (lagi) perut yang selalu teriak minta di asup makanan ini, gw memilih secangkir (besar) coklat panas ($ 5.5) dan “cookie” (besar), lupa harga tepatnya, sepertinya sekitar $5.8. Tempat nyaman, kenyang, enak, dan puas.

Bondi
Bondi Beach dan pasir putihnya
My Max Brenner menu
My Max Brenner menu

Habiskan Malam di King Cross

King Cross, daerah kami menginap ternyata terkenal sebai “red light district”, intinya daerah yang penuh dengan “hiburan” malam; , klub malam, toko dengan embel-embell “adult”, dan banyak juga restaurant. Gw, Liz, dan Ana yang lugu inipun akhirnya penasaran dengan gelar itu, jadilah malam terakhir bersama untuk perjalanan ini kami habiskan dengan memberi makan keingintahuan kami dan diputuskan untuk menghabiskan malam di salah satu bar karena malam sebelumnya sudah muter-muter (stt, konsumsi untuk yang sudah memegang KTP saja). Berhubung pada gak doyan goyang-goyang kepala di tempat remang, kami hanya memesan satu skoci minuman di lantai paling bawah yang disediakan khusus bar (lantai atas adalah hotel dan diskotik). Sambil menikmati cocktail special bartender di hari itu dan gak lupa dengan harga yang relatif murah, kami menghabiskan dengan ngobrol santai tentang pengalaman perjalanan yang luar biasa dari hari pertama hingga malam itu. Berbagi kesan dan harapan-harapan untuk perjalanan berikutnya karena terus terang saat itu kami sudah memegan tiket untuk perjalanan lain, yaitu ke Jepang yang sebagian sudah gw ceritakan di blog ini. Saat jam menunjukkan pukul 23:30, kami memutuskan pembicaraan harus dihentikan dan pulang beristirahat di hostel yang jaraknya hanya sekitar 5 menit ditempuh dengan berjalan kaki yang sempoyongan.

King Crossitulah satu hari yang panjang dan menyenangkan di Sydney