Touchdown!!! Benua Australia saudara-saudara, setelah bertahun-tahun memimpikan negara ini, 8 bulan persiapan itinerary sampai berdarah-darah, akhirnya berhasil juga merasakan angin sejuk dingin musim Semi. Yups setahun yang lalu (11 Oktober 2012) adalah pertama kalinya gw, Liz, dan Ana menjejakkan kaki di Sydney. Uh, ini semua terjadi karena kegigihan menunggu tiket promo, membuat visa, dan mengumpulkan duit. So, dengan berbekal jadual perjalanan yang berlembar-lembar (beneran berlembar) dimulaillah petualangan kami di negeri Kanguru ini. Pukul 11.00 waktu Australia, kami udah beres dengan urusan imigrasi dan bagasi, dijemput temem gw Ibam yang ganteng, kami bergerak menuju the Original Backpackers Hostel di King Cross. Tanpa ba..bi..bu, tas di taro kami menuju The Rocks dan Circular Quay, lokasi ini menjadi pilihan pertama selain karena terdekat dengan penginapan kami, di seputaran inilah terletak Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge, dua icon Sydney, belom ke Sydney rasanya kalo gak ada foto di jembatan dan gedung berbentuk keong tersebut. So, dengan kecepatan mobil Ibam, kami sampai di Hickson Road, The Rocks tepat di jam makan siang.

Lunch dan berkeliling The Rocks

Berhubung sampai di lokasi ini sudah di jam makan siang, tempat yang didatangi pertama adalah “Metcalfe Arcade Pancakes”, tempat ini dipilih berdasarkan rekomendasi Ibam yang udah sepuluh tahun lebih di sana. Mungkin bukan pilihan yang tepat untuk makan siang, tapi ini sepertinya menu tercepat. Setelah masuk, kami gak nyesel, selain suasanya yang nyaman, ternyata makanannya enak dan harganya pas (budget kami sekali makan AUD 20 sekali makan, ternyata tidak segitu) untuk lokasi Sydney.

Metcalfe Arcade
Metcalfe Arcade

Perut telah dipuaskan dan kelelahan setelah perjalanan panjang sudah mulai sirna, kami bersiap untuk mengeksplorasi The Rocks dan sekitarnya. Tetapi sebelumnya kami membelot sebentar ke arah barat menuju jembatan yang menjadi icon Sydney, Sydney Harbour Bridge, steel arch bridge terbesar di dunia (tidak terpanjang). Dengan berjalan kaki kami langsung menuju pintu naik ke jembatan. Selain berjalan menikmati sejuknya angin musim dingin sambil melihat orang-orang yang jogging, di jembatan ini ada dua aktivitas yang bisa dilakukan (dan gak gratis), yaitu kegiatan berkelompok memanjat busur jembatan (buat orang – orang yang suka kegiatan ekstrim) dan menikmati pemandangan di Sydney dari titik pandang tertinggi, Pyloon Lookout (buka setiap hari, kecuali hari Natal, pukul 10:00-17:00, umum $15, Siswa dan Manula $8.5, 5-12 tahun $6.50, di bawah 4 tahun gratis).

Sydney Harbour Bridge

Setelah satu jam berjalan kaki santai sambil berfoto-foto dibeberapa titik penting dan pose andalan, akhirnya kembali ke lokasi inti. The Rocks. Gw, yang mendapat tugas untuk Sydney (sama ana juga) punya alasan lain untuk memilih daerah ini, dari berbagai sumber yang di dapat diinternet, The Rocks juga menyimpan sejarah walaupun kelam. The Rocks merupakan era permulaan narapidana di Sydney. Untuk ikut tenggelam dalam kecamnya The Rocks pada masa itu, disediakan tour Hantu dengan pemandu pada waktu yang sudah disediakan (sayangnya kami gak sempat ikutan). Kalo gw summary-kan, daerah ini punya sejarah dan peninggalannya berupa bangunan yang sayang untuk dilewatkan.

Gedung pertama sebenarnya yang kami temui dan memikat mata adalah Campbells Storehouse. Bangunan ini didirikan tahun 1839 oleh Robert Campbell, seorang saudagar ternama dari Skotlandia, yang dikenal sebagai “the father of Australian commerce”.  Kompleks gudang dan dermaga ini dia bangun sendiri untuk mengimpor gula dan teh dari India yang awalnya didominasi oleh perusahaan “British East India”. Gudang ini dibangun murni dari bata batupasir.

Campbells Storehouse dari belakang
Campbells Storehouse dari belakang

Gedung berikutnya adalah Susanna Place Museum yang dibangun pada tahun 1844 sebagai teras dari gabungan 4 rumah dan pada tahun 1915 diubah menjadi gudang pojok dan sekarang dijadikan juga toko tempat menjual barang-barang yang digunakan pada masa itu. Bangunan ini menjadi sejarah dari beberapa generasi keluarga kelas pekerja pada tahun 1844 – 1990 yang sulit ditemui di pusat kota Sydney. Bangunan yang menjadi bukti kekayaan komunitas yang ada di The Rocks pada masa itu, interior dan halaman belakang yang sederhana yang dilarang dibangun di pusat kota Sydney pada abad ke-19. Masuk ke museum ini hanya diijinkan dengan pemandu wisata dan di buka pada hari Senin – Jumat, 14:00-17:00.

Susannah PlaceMenuruni tangga di halaman belakang Susanna Place Museum kami menuju pusat informasi turis Sydney (Sydeny Visitor Centre). Hal yang menyenangkan dari jalan – jalan setapak ini adalah mata kami dimanjakan dengan pemandangan abang – abang ganteng gedung – gedung yang indah. Selain itu, keunggulan The Rocks adalah banyaknya tempat makan, nongkrong, dan bar. Puas mengumpulkan berbagai informasi, kupon diskon, peta dan buku panduan gratis, kami keluar, kemudian menyusuri George Street menuju “Museum of Contemporary Art Australia”.

Museum ini gw masukkan ke list yang harus dikunjungin karena Lizty, best travel mate gw suka seni yang seperti ini. So, kami menyempatkan untuk masuk dan melihat – lihat pameran yang ada di museum yang di buka setiap hari, kecuali hari Natal dari jam 10 pagi sampai 5 sore ini dan tanpa dipungut biaya. Untuk mereka yang suka seni kontemporer museum ini mungkin keren banget, tapi buat gw, yang ada hanyalah kebingungan dan aneh -_-“!.

Setengah jam memuaskan mata Lizty, akhirnya kami keluar dan langsung di pintu depan museum ini adalah pemandangan Sydney Opera House dan Circular Quay. Circular Quay ini merupakan dermaga yang ramai dikunjungi wisatawan karena menghantarkan ke daerah-daerah tujuan wisata yang menarik seperti Manly, Watson Bay, dan Taronga Park Zoo. Selain itu, di lokasi disepanjang pinggir pelabuhan banyak tempat nongkrong yang sepertnya bagus dimusim-musim selain dingin, sambil menikmati kesibukan di Circular Quay.

Berhubung perut masih kenyang, kami gak singgah untuk nongkrong di sini, jadi menyusuri jalan di sebelah barat kami menargetkan Sydney Opera House sambil berpoto-poto masih dengan gaya andalan dan mencari sudut-sudut yang menurut kami udah poll abiss. Nah, semuanya memakan waktu sekitar 30 menit, sampailah kami di Sydney Opera House dan tanpa membuang waktu berfoto di gedung yang menjadi must-take-your-photograph-here-while-travelling-to-Sydney dan berebutan tempat dengan turis lainnya. Yah, terus terang walaupun gedung iconic yang di desain oleh JØrn Utzon dan di bangun pada tahun 1973 ini merupakan tempat pertunjukan seni, kami hanya tertarik untuk berfoto di depannya pula (*shallow). Berfoto sudah, lanjut ke Royal Botanical Garden lebih ke timur lagi. Sebenarnya tujuan akhirnya adalah Mrs. Macquaries’s Chair untuk menikmati sunset pertama di Sydney. Ahey ‘so sweet’ ah.

Sydney Opera House dari beberapa sudut
Sydney Opera House dari beberapa sudut

Royal Botanical Garden yang dibuka pada tahun 1816 ini merupakan pusat dari tiga kebun raya yang dibuka untuk umum di Sydney (yang lainnya adalah Mount Annan Botanic Garden dan Mount Tomah Botanic Garden), dibuka sepanjang tahun dari jam 06:30 sampai sunset, dan tanpa biaya. Dengan luas sekitar 30 hektar dan, taman yang dibentuk sejak 1788 oleh “Governor Phillip” ini memiliki lebih dari satu juta spesies makhluk hidup. Taman yang tertata rapi ini bagus untuk duduk bersantai sambil menikmati bekal.

Royal Botanical GardenSaat matahari sudah semakin condong ke arah barat dan sinarnya mulai redup, tergantikan oleh pendaran warna-warni yang semakin indah, kami mempercepat langkah menuju utara ke Mrs. Macquaries’s Chair atau point. Katanya tempat ini merupakan lokasi terbaik untuk melihat sunset dan memotretnya dengan hiasan Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge. Sepanjang jalan kami masih menemui banyaknya orang yang jogging sambil menikmati angin sejuk musim semi.

Royal Botanical Garden 2Mungkin hal bodoh yang kami lakukan sampai di ujung jalan adalah mencari kursi, yah karena “literaly” tujuan kami seharusnya ditemukan kursi, tapi setelah bengong beberapa lama, yang kami temui hanya seonggok singkapan batupasir putih yang bagian tengahnya dikerat agar bisa diduduki dan di sana sudah ada beberapa orang yang duduk. Akhirnya kami memutuskan bersama bahwa kami sudah tiba di daerah tujuan.

Mrs Macquaries chair
Mrs Macquaries chair

Sekali lagi mengambil foto dari berbagai sisi sambil menunggu pedaran cahaya matahari yang indah melalui celah-celah rangkaian baja Sydney Harbour Bridge benar-benar hilang untuk kembali ke penginapan dan beristirahat.

Sydney Harbour Bridge dan Opera House
Sydney Harbour Bridge dan Opera House

Perjalanan dari point terakhir menuju parkiran di Hickson Road lumayan berputar dan cukup jauh, gak sadar emang kalo seharian penuh ini kami sudah berputar jauh. Berputar melalu The Domain, masih banyak saja orang yang berolahraga; jogging, sit up, dan gerakan-gerakan olah tubuh lainnya, padahal jarum jam sudah menujukkan angka 08.30. Luar biasa memang niat olahraganya. Oh yeah di jalan ini juga ada “Art Gallery of New South Wales” yang katanya tidak dipungut biaya masuk. Sayangnya sudah tutup saat kami lewat. Ya, iyahlah.

Mrs Macquaries Point4

Ehm itulah setengah hari pertama di Sydney. Cape’ tapi puas dan untu setiap tempat yang disinggahi tidak pake biaya, kecuali makan.