Beberapa bulan silam, gw berkesempatan transit di Kuala Lumpur, Malaysia selama tiga hari dua malam. Walaupun terdengar lama, tetapi setelah melihat jadual penerbangan yang tiba tengah malam dan pulang ke Indonesia dengan penerbangan pagi, membuat gw punya waktu efektif satu hari untuk menyusuri ibu kota negara tetangga dan serumpun ini. Pastinya sebagai pejalan yang gak pernah mau melewatkan setiap ada kesempatan singgah disuatu daerah baru, gw sudah mempersiapkan itinerary yang matang untuk sehari itu. Biasanya berisi, must see, must eat, and must free fee. Hahahahha, itulah ciri bersenang-senang ala kami, sebisa mungkin tak berbiaya kalo bisa nanggok, asal yg di tanggok bahagia (ada yah??).

Plan yang agak melenceng dari actual ;D
Plan yang agak melenceng dari actual ;D

Batu Caves

Batu CavesBangun pagi, sarapan secepat flash di Jalan Petaling Chinatown, dan bungkus makan siang (karena gw sudah memperkirakan lokasi Batu Caves yang jauh), kemudian bergegas ke stasiun bus Lebuh Ampang yang ditempuh sekitar 10 menit dari Chinatown Inn tempat gw nginap. Sekitar satu jam perjalanan bus berhenti di kawasan industri Batu Caves. Melihat Patung Murugun dari emas tertinggi di dunia, menapaki 272 anak tangga, dan sedikit tenggelam dalam syahdunya kuil hindu, itulah hal yang akan didapatkan di Batu Caves. Done, dalam 1 jam. No entrance fee.

Menikmati bangunan tua (gratis) di Dataran Merdeka

Dataran MerdekaUntuk yang senang atau tertarik dengan bangunan bersejarah seperti gw, bisa mampir ke Dataran Merdeka di Kuala Lumpur selepas dari Batu Caves. Lokasi ini bisa ditempuh dengan bus KMUTER selama sejam dan berhenti di Stasiun Bank Negara, setelah itu berjalan sekitar 10 menit ke arah selatan. Selain melihat keindahan arsitektur bangunannya, wisata di sini gratis dan kita bisa melatih otot-otot kaki juga. Oh yah, kalo sempat ke sini, mampir di Kuala Lumpur City Gallery, selain menyediakan informasi untuk wisatawan secara gratis, di sini menjual souvenir khas Malaysia yang terbuat dari kayu dan desainnya keren – keren.

Ceritanya bisa di liat di sini dan sini

Wisata Kuil di Chinatown lanjut ke Stasiun Kuala Lumpur Kota

ChinatownPuas dengan pemandangan bangunan tua di Dataran Merdeka, gw bergerak ke arah selatan masuk ke Jalan Tun H S Lee. Tujuan berikutnya adalah Stasiun Kuala Lumpur Lama. Sebelum sampai di Stasiun Kuala Lumpur Lama, gw mampir sebentar melihat dua kuil yang cukup terkenal di Kuala Lumpur, yaitu Guan di Temple (Taoist, 1888)  dan Sri Mahamariamman Temple (Hindu, 1873). Setelah lima menit berada dalam LRT dari Stasiun Pasar Seni, sampailah gw di Stasiun Kuala Lumpur Lama. Ada tiga bangunan yang penting untuk dilihat di lokasi ini yaitu, Stasiun Kuala Lumpur Lama (1886), Malayan Railway Adm. Building (1917), dan Majestic Hotel(1935). Sebagai tambahan gw menyempatkan diri melipir ke Jalan Tun Sambanthan melihat sisa kejayaan Gedung Sulaiman (1933) dan Holy Rosary Church (1904). Gedung – gedung di atas cukup cantik untuk dilewatkan. No fee entrance.

Cerita lain tentang kuil-kuil diseputaran Chinatown

Melintas di Little India, Brickfields

Little IndiaDengan kecepatan kaki gw sendiri, tigapuluh menit kemudian sampailah gw di Little India, Brickfields. Untuk yang males berjalan atau gak cukup punya waktu bisa menggunakan LRT. Dari namanya aja bisa memperkirakan donk seperti apa isinya kota kecil ini. Ya, jajaran toko yang menjual berbagai macam hal yang bernuansa India, dari makanan, pakaian, peralataan sembahyang, dan hal lainnya yang tentu saja diiringi musik dan hiasan yang seakan memaksa kita untuk cari pepohonan terus nari-nari kaya Anjeli di pelm ‘Kuch Kuch Hota Hai’ dan juga wewangian khas yang sering gw cium di kuil-kuil India.

Berburu oleh – oleh murah di Jalan Petaling, Chinatown

Puas menari, eh menerjunkan diri semaraknya Little India, gw balik ke Jalan Petaling untuk berbelanja, tentunya dengan Monorail (gempor bok kaki indah gw). Berhenti di Stasiun Maharajalela, gw langsung disambut oleh dua kuil lagi dan pastinya tak akan gw lewatkan begitu saja. Setelah jari-jari gw yang super lincah selesai mengambil foto dari beberaa sudut di Kuil Kuan Yin (1880) dan Chan She Shu Yuen (1906), kaki yang tak kalah lincahpun bergegas ke pasar di Jalan Petaling untuk mengisi koper gw dengan sovenir buat temen-temen dan sanak saudara di kampung halaman.

Berfoto di depan Menara Kembar Petronas (wajib) dan muterin KLCC

Twin TowerWisata sejarah sudah, wisata belanja sudah, perut juga sudah terisi dengan berbagai jenis makanan, wisata gratis melihat beberapa kuil juga sudah, tibalah gw memenuhi acara “wajib” bila bertandang ke ibukota negara tetangga ini, yaitu..treng…treng…treng…berfoto di depan menara kembar Petronas atau yang di kenal dengan Twin Tower (poto ini sebisa mungkin lo di posisi tengah. Catet). Emang gak afdol rasanya kalo gak melakukan hal ini. Walaupun bedak yang ala kadarnya gw pasang di pipi sedikit luntur dengan hujan, tidak menyurutkan niat yang satu ini. Oh ya, KLCC yang ada di sini juga, gw rasa akan menjadi tujuan yang cukup menarik buat mereka yang doyan belanja barang branded. Nah, kalo foto doank dengan gaya di atas, gratis dan kalo berutung bisa jadi kita yang dibayar (moderl, red) ;P.

Makan malam di Chow Kit

Dinner at Chow KitMalam yang tak berbintang di kala itu mampu menahan gw bergerak ke Bukit Bintang, akhirnya ditengah derasnya hujan, diputuskanlah untuk mengapresiasi semangat gw semenjak pagi hari dan sekaligus mengakhiri kesendirianku juga dengan makan malam di jalan alor, Chow Kit. Tidak sia – sia memang karena semangat para pedagang tidak terpupus oleh hujan seperti gw. Menurut gw kawasan in adalah “surga” bagi pencinta masakan oriental.

Piring yang kosong, kaki yang sedikit lelah, kantong yang menipis, dan disertai rintik hujan yang semakin memudar menandai berakhirnya hariku di Kuala Lumpur. Hanya sehari namun berharga; mata menjadi lebih segar, hati terpuaskan, dan bertambah goresan pena cerita dihidup gw.