Lika – liku dan hectic-nya Jepang sepertinya belum akan habis, sebelum bibir ini berbusa ngomongin tentang Negara impian itu dan jari lentik gw ini keriting nulisnya, baiknya gw mampir sebentar di warung dan bersantap-santap ria. Kali ini gw istirahat makan di warung yang ada di sepanjang jalan poros dari Banjarmasin ke Sungai Danau, Kalimantan Selatan, tempat gw kerja sekarang. Beberapa tempat ini secara kebetulan gw temui atau ada juga yang direkomendasi ama temen lokal, sekaligus makanan pilihan dari berbagai tempat yang udah gw coba di poros ini. Persinggahan di mulai dari deket Banjarmasin ke arah Sungai Danau.

Ketupat Kandangan di Pelaihari

Ketupat Kandangan

Nah Pelaihari ini adalah salah satu kabupaten yang di lewati bila kita akan menuju Sungai Danau. Di jalan ini gw diinfoin ama temen ada Ketupat Kandangan yang saying kalo di lewatkan (sebenarnya kandangan nama daerah juga, sepertinya ini cabangnya). Warung sederhana dengan bangunan dari bambu bercat hijau ini infonya hanya buka di pagi hari, dikhususkan sebagai menu sarapan kali ye, atau kalopun harusnya ampe siang, karna laris sekitar jam 10 pagi udah habis.

Ketupat Kandangan_Served

Honestly, ini pertama kalinya gw ngerasain ketupat kandangan, jadi gak ada referensi pembandingan, selain itu, uniknya, cara makan ketupat ini (berdasarkan orang lokal) adalah ketupat di remes-remes dengan kuahnya dulu sebelum di makan (seperti pada gambar) dan seharusnya tidak menggunakan sendok dan garpu sperti saya, tapi langsung; bare hands.  Walau gak ada pembanding rasa, untuk percobaan pertama, ketupat ini tidak mengecewakan. Kuah ketupat kandangan sangat gurih. Ntah bagian apa yang ngebuat kandungan santan gak buat gw merasa eneg.  Untuk ketupat dan kuahnya gw nilai 9 dari 10. Nah, untuk pelengkap ketupat ini (pastinya gw gak makan ama kuah doank donk, udah gak mahasiswa lagi soalnya, kekekekeke) gw nambah lauk sate usus ayam ama ikan haruan (ikan gabus). Ehmmm, terus terang lauk – lauk yang gw pesan dan ternyata ditaburi kuah ketupat ini tidak sememuaskan ketupat dan kuahnya itu sendiri. Gw begitu terkesan dengan ikan gabus yang di goreng dan dikuahi. Ikan gabusnya jadi lembek dan tidak crispy. Untuk usus sate usus ayamnyapun begitu. Jadi nilai untuk lauk pendamping adalah 7 dari 10.

Untuk tempatnya, jangan berharap tempat yang fancy, tapi walaupun sederhana dan terletak dipinggir jalan, tempatnya bersih dan gak gerah. Dua porsi ketupat kandangan yang kami pesan ditambah lauk dan the tawar hangat dua porsi juga dikenai biaya Rp 30,000. Lumayan murah dan pantas.

Gado – gado di Kintap

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam ke arah timur atau mungkin sudah di sekitar km 150, kita sampai di Gado – gado dan gorengan di Kintap.

Gado - gadoDengan warung yang lebih sederhana dari warung sebelumnya, gw mendapatkan gado – gado yang enak. Mungkin lagi-lagi karna bumbunya gak buat gw eneg (sorry kalo ini jadi salah satu penilaian). Buat gw, bumbu kacang gado-gado itu penentu, selain kadar kematangan sayurnya. Saos kacang yang diisi dengan berbagai macam rempah yang sebagian besar rasa dan baunya sangat kuat ini, otomatis, kalo campurannya gak pas bikin eneg, terutama kencurnya. So, kenapa gw suka gado-gado di tempat ini, simply karna semua bumbu itu tercampur dengan pas. Gak ada rempah yang lebih dominan, kecuali kita pesen sebelumnya. Buat gw, sayuran yang di rebus itu enak saat dia gak terlalu matang atau sampai lembek, sayangnya sayuran di gado – gado ini, menurut agak kematangan, jadi pas digigit gak berasa krenyes. Penilaian gw untuk gado-gado yang seporsinya Rp 8,000 ini adalah  8 dari 10.

Warung Padang di Simpang Pama, Kintap

20130317_1732022Masih di Kecamatan kintap, sekitar I km di timur warung gado – gado yang tadi. Biasanya orang bilang Simpang Pama atau Blok C. dari sepanjangan jalur poros ini, gw udah nyoba beberapa nasi padang dan yang paling sreg adalah di lokasi ini. Dari nasi yang gak gitu keras dan juga gak lembek, sayur singkong dan nangkanya, sambel ijo dan merahnya yang pedasnya mantap dan gurih, serta lauk-lauknya yang masih terbilang segar dibandingkan yang lainnya. Biasanya gw suka makan otak sapi dan balado terong. Disuguhin lengkap dengan the tawar hangat. Sekali makan dengan pemesanan seperti itu, biasanya gw ngeluarin sekitar 17,000 rupiah. Penilaian gw untuk nasi padang ini adalah 8,5 dari 10.

Siomay dan Batagor Bandung di Sungai Danau

20130330_173129Ke arah km 163, bisa kita temui warung siomay dan batagor Bandung. Seperti seantero Indonesia sudah tau, makanan ini memang khas dari Bandung. Menurut gw di kasih nama warung Bandung biar meyakinkan ajah. Hehehehe. Ngeliat warungnya yang sederhana, sekilas mungkin gak menarik, tapi coba kita pesen dan rasakan rasanya memang enak. Bagi yang pengen ngerasain atau lagi sakau banget siomay dan batagor dengan olahan yang menyerupai batagor riri (berlebihan ding), maksud gw menyerupai rasa sesungguhnya dan pastinya dari kuah dan isi-isinya, tempat ini boleh di coba. Dengan ngeluarin rupiah senilai 12,000 untuk porsi lengkap, warung ini layak gw kasih nilai 8 dari 10.

Sate Ayam dan Kambing di Sungai Danau

SateYaks, dipenghujung perjalanan, sampai deh kita di pusat “kota” Sungai Danau. Perkampungan sentral. Dari rekomendasi teman, gw dapet sate yang enak. Sate ini bukanya hanya malam hari dan di lokasi yang bergantian dengan bengkel di pagi harinya. Untuk tempat mungkin tidak sebaik tempat – tempat sebelumnya, tapi kalo untuk rasa menurut gw boleh di adu. Heheheheh. Sate kambing dan sate ayam di sini cukup laris dan antriannya setiap malam selalu panjang, jadi kalo mau makan di sini jangan pas laper-laper banget, alhasil bisa ngamuk ntar pelanggan dan cacing-cacing perutnya. Dari seporsi sate yang dihargai Rp 15,000 ini (satu porsi 10 tusuk), gw ngedapatin sate ayam dan kambing yang lembut dengan bumbu kacang yang lagi-lagi enak dan gurih. Rasa manis bumbu kacang pas di lidah gw, gak berlebih. Rasa sate, gw kasih nilai 9 dari 10.

So. Istirahatnya sudah berakhir. Mungkin habis ini kita kembali jalan – jalan. Habis seneng-senengin perut kita senengin mata dan otak. Semoga ketemu abang ganteng. Wkwkwkwkwkwk.