Gak berlebihan emang kalo jalan – jalan kali ini gw bilang mengejar Orang Utan karena kenyataannya emang gitu. Awalnya gw yang ngikut rombongan kakak gw gak berniat ngejar Orang Utan, niatnya adalah melihat Orang Utan dari dekat di area konservasinya. Tapi emang nenek gw bener kalo bilang kenyataan itu seringnya gak seindah khayalan, impian, harapan, ataupun cita-cita kita, sehingga kata ini berubah jadi mengejar (Seperti juga cita-cita gw waktu kecil adalah bisa jadi pengantin salah satu anak dari Lady Diana dan kalo bisa Pangeran Harry, intermezzo red.),

Pengejaran itu di mulai di pagi hari yang indah di kota kecil yang jadi rame karna ada tambang batubara terbesar kedua di Indonesia yaitu Sangatta, Kutai Timur bagian dari Provinsi Kalimantan Timur, gw dengan cantiknya dan rombongan kakak gw dengan langkah pasti (tepatnya roda mobil pasti) menuju pintu masuk Prevab, Montoko yang ada di Kabo Jaya.

Gerbang

Sampai Kabo Jaya, jangan berharap pintu gerbang yang besar dan indah dengan tulisan “Selamat Datang di Area Konservasi Orang Utan, Prevab, Mentoko”. JANGAN. Karena hal itu gak ada, yang ada adalah kami disambut oleh peringatan “HATI – HATI ADA BUAYA/BINATANG BUAS”. Setelah shock baca palang sambutan itu, gw jadi lemes. Lemes bukan karna ketemu buaya langsung, itu iyah, tapi belom sampai di situ ceritanya kawan. Gw lemes karna ketinting yang sudah dipesan rombongan kami sehari sebelumnya gak kunjung tiba (oh, yah klo berniat ke Prevab, harus melalui sungai dan ketinting transportasi satu-satunya, harus di pesen sebelum hari H, kecuali mau berenang). Untungnya di sana ada hiburan dari penduduk lokal, yaitu anak-anak yang mungkin temennya bolang lagi main-main di sungai. Ngeliat itu, gw kembali ceria. Ceria memikirkan masa kecil gw yang gak jauh kaya itu, walau kalo sekarang disuruh berenang di sungai gitu udah gak mau lagi karna tau ada buayanya. Ogah.

Kids of the riverSetelah hampir lumutan karna nunggu sekitar dua jam dari perjanjian awal, akhirnya ketinting kami tiba dan ternyata oh ternyata dia bawa sepasang bule yang baru balik dari sana. So, pengejaran di mulai dari mengarungi jalur sungai yang kadang – kadang deras, terkadang tenang diselingi pemandangan biawak yang muncul di tepi sungai untuk berjemur atau buaya yang tiba-tiba muncul dipermukaan (asli bikin gw gemetaran dan takut liat kanan kiri, jadi pandangan lurus kedepan), atau Elang Kalimantan yang berseliweran. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya sampai juga di Prevab. Prevab ini adalah daerah rehabilitasi hutan seluas  200 ha yang pernah terbakar di tahun 1997. Di hutan ini juga seharusnya kami bisa berkenalan atau ngobrol dekat dengan Orang Utan, tapi keingintahuan kami (tepatnya sok ingin tau kali ye), perjalanan kami lanjutkan ke Mentoko dulu, tempat penelitian Orang Utan yang jaraknya bisa ditempuh sekitar 30 menit lagi dengan kecepatan ketinting.

KetintingSayangnya temen gw, si dewi keberuntungan gak ikutan di perjalanan kali ini. Kami tidak bisa melihat lebih dekat dengan areal penelitian Orang Utan karena peneliti utamanya lagi gak ditempat, so kami cuma bisa melongo bego dan penuh tatapan hampa serta memelas di sana. Untungnya ada kucing ini yang agak aneh, jadilah kami poto dia, kemudian balik ke Prevab. Yuk mariiiii.

Mentoko

Balik ke Prevab, kami gak berlama-lama untuk mulai nyusurin jalur yang dirancang emang bisa bertemu orang utan, atau jalur ini sekedar untuk jalur berjalan mengelilingi Prevab. Mungkin kalo mau liat flora dan fauna atau apapun itu lebih dekat.

PrevabSepanjang jalan mengikuti jalur itu menunggu peruntungan akan bertemunya Orang Utan, tentunya mata indah gw ini menangkap beberapa hal yang menurut gw sayang kalo gak di poto. Mungkin aja unik, lucu, imut, atau yah biar ada bahan yang di foto aja. Sayangnya setelah hampir sejam berjalan sembari melewati jembatan gantung dari kayu, berfoto di pohon yang diameternya cukup lebar, minum air dari akar pohon, kami tak jua bertemu sahabat kami itu, si Orangutan.

Akhirnya diputuskan bersama dengan sepenggal rasa kecewa (aseeek, sok penyair gw), kami kembali ke pos utama. Sambil melepas lelah, kami ngobrol dengan kawan-kawan yang setia menjaga Prevab. Mungkin bapak-bapak di sana kasian melihat rasa penasaran kami, akhirnya mereka mengusulkan untuk sekali lagi berputar dengan jalur lain. Dengan sisa-sisa asa yang ada, kami dan rombongan kembali mengayunkan langkah kami yang gontai namun indah menapaki jejak yang lain sambil berkejaran dengan matahari yang tampaknya mulai lelah menyinari langkah gontai kami (kayanya bahasa gw kali ini dipengaruhi habis baca sastra deh).

Prevab 2Masih dengan napas tersengal-sengal dan pastinya masih dengan asa yang semakin membara (ini beneran), kami terus melangkahkan kaki yang gak gontai lagi, tapi lebih bersemangat, masuk ke bagian yang semakin tinggi rerumputannya. Berlari terus. Akhirnya pengejaran kami mulai membuahkan hasil takkala kami ngeliat Jeff (Orang Perancis yang kami temui di post saat beristirahat) berdiri terdiam sambil terus mendongak dengan kamera canggihnya menghadap ke atas. Yess, finally, terlihat mereka, yang berbulu cokelat kemerahan, dengan tangan yang lebih panjang dari badan ataupun kaki yang sedang berpegangan erat di dahan-dahan pohon sambil menggendong anaknya. Yah, Orangutan (yang gw lupa namanya). Yupsss, setelah bertemu Orangutan itu, lumutan nunggu ketinting, lamanya perjalanan yang disertai sport jantung takkala melewati arus deras dan melihat buaya ngambang di sungai, dan kelelaahan berlari, semuanya sirna. Ada perasaan puas bisa bertemu Orangutan yang sekarang menjadi sangat langka, tidak seperti dulu lagi.

Orangutan 2
Si Kawan

Walau kamera hape gw yang tak seberapa ini dan kebanting jauh dengan kamera canggih Jeff yang lengkap dengan teropong2nya, tak sanggup mengabadikan moment saat itu lebih jelas, tapi saya dan sepertinya rombongan cukup puas bisa melihat lebih dekat Orang utan dan anaknya bermain di antara pepohonan. Yah, gw menganggap hasil kamera yang belum bagus sebagai pertanda gw harus balik lagi ke Prevab sewaktu-waktu dengan peralatan tempur yang lebih baik dan pastinya gw berharap Orang Utan pun siap menambah kawannya. So senang – senang pun bisa ditemukan di liarnya kehidupan hutan. That simple.

Catatan kecil; Harga ketinting (udah termasuk fuel adalah Rp 350.000, biaya masuk per orang Rp 12.000, biaya guide Rp 100.000.

Biaya

I thank you God for this most amazing day, for the leaping greenly spirits of trees, and for the blue dream of sky and for everything which is natural, which is infinite, which is yes. –E.E.Cummings-