Abis dari megapolitan Tokyo, gw ama temen-temen melipir ke arah barat daya yaitu Kyoto. Pastinya kali ini masih tentang makan-makan (perjalanan menyusul yaks). Sehari di Kyoto lumayan nyoba beberapa makanan.

Masara Black Curry (Nasi Kari item, lagi??)

Masara Black CurryHem, berhubung kami akan melakukan perjalanan sehari penuh ngiterin Kota Kyoto, jadi untuk sarapan, kami milih yang agak berat, nasi kari lagi di took khusus kari di Stasiun Kyoto. Kali ini gw nyoba kari yang lain yaitu Masara Black Curry (kari item dengan tinta cumi-cumi sebagai penghitamnya) karna gw penasaran dengan bumbu warna itemnya. Alhasil setelah tersedia di hadapan gw, bukannya gak bersyukur dengan makanan yang ada, gw susah banget menu ini. Selama di Jepang makanan inilah yang gak bisa gw habisin dan udah gitu lama banget makannya. Rasa kari itemnya hambar-hambar aneh gimna gitu. Walau udah gw tambahin asinan yang ada, tetap hambar aneh (gw gak tau gimna jelasin keanehan itu). Intinya ini makananan gak pas banget di mulut gw. Untuk tempatnya, seperti toko pada umumnya yang hanya untuk makan, susah untuk sambil ngobrol karna kursinya menghadap ke bar koki semua. Harga nasi kari ini lumayan murah yaitu ¥480 perporsi, gratis air es, mana bisa refill botol lagi (walau sembunyi2 karna malu, hehehehe). Untuk rate dari skala 10, mmm gw kasih 6.25 deh. Gak akan beli yang bumbu ini lagi.

Masara Black Curry2

 Onigiri

Makanan yang umumnya berbentuk segitiga ini akhirnya gw rasain juga. Waktu itu nyoba yang salted onigiri. Di dalamnya ada potongan sedikit tuna dan dibagian luarnya dilapisi nori (lupa moto euy), untuk nasinya, onigiri ini rupanya cuku padat dan hampir seperti nasi ketan kepadatannya, tapi gak seguruh nasi ketan, nasinya cenderung hambar, rasa asin berasal dari tuna dan nori yang membungkusnya ternyata. Cukup mengenyangkan, untuk satu buah onigiri harganya sekitar ¥130. Nori ini juga di beli di Stasiun Kyoto. Untuk rasa pertama gw kasih 7,5 dari 10.

Nasi Daging, Tofu, dan Sop Miso

Lunch di KyotoUntuk makan siang yang kesorean dan makan malam yang kesiangan, kami pilih makanan di toko cepat saji di daerah Gion, menu yang gw pilih campur-campurlah; nasi pork dengan tofu, dan miso pork. Kali ini sengaja milih tambahan tofu karna Kyoto terkenal dengan tofu-nya. Nasi seperti biasa, pulen, tapi nasi di toko ini gak sepadat nasi di tempat-tempat sebelumnya (lumayan lepas2, jadi agak susah pake sumpit bagi kelas pengenalan sumpit kaya kami). Sop miso-nya sedikit lebih kuat kaldu pork-nya dibandingkan yang sebelumnya gw coba, mungkin karna bagian lemaknya agak lebih banyak, jadi sedikit berminyak juga kuahnya (minyak pork itu). Untuk tofunya, ternyata sangat hambar, gak ada bumbu sama sekali, saat dimakan hanya rasa hambar dan sensasi dingin, walaupun terlihat kenyal dan saat diambil dengan sumpit gak hancur, ternyata saat dimulut tofu-nya lembut (heran kenapa bisa gitu). Bacon (pork yang dipanggang) sangat lembut, ini pertama kalinya gw makan grilled pork yang sangat lembut, sebagian karna kebanyakan lemak juga isinya. Bumbu dagingnya sendiri manis, tetapi tidak berlebihan, dan wangi. Secara keseluruhan gw suka makanan di sini. Porsinya enak (apa karna laper juga), bumbu danging panggangnya pas, dan misonya juga nendang banget. Oh yah, untuk kacang2an kecil warna ijo itu, gw gak suka, rasa pahitnya gak biasa, dank eras, gw gak tau juga itu sebenarnya untuk menu yang mana. Untuk menu campur-campur sari ini nilainya 9,5 dari 10, tapi untuk tofu  gw kasih nilai sendiri 7,5 dari 10 karna rasanya gak jauh beda dari yang di supermarket di Indonesia, hanya terasa lebih segar saja. Hampir lupa untuk tempatnya yang sedikit lebih lapang dari tempat makan umumnya yang kami datangi, ini lumayan nyaman, ada tempat yang bisa dipakai untuk mengobrol dan ada juga yang seperti di gambar. Uporsi yang seabrek-abrek ini lumayan mengocek kantong gw juga, biaya yang gw keluarin sekitar ¥850. Mayan kan daripada mayun ;p.

Lunch2

Matcha Ice Cream

Yuks, teriknya matahari Kyoto saat itu, khususnya waktu ngitarin Arashiyama membuat gw tertarik untuk melipir ke toko yang jualan es krim, dan lagi-lagi berhubung di Negara yang terkenal akan the hijaunya, gw nyoba es krim Matcha (serbuk daun teh hijau), rasanya yah rasa daun teh hijau, gak semanis es krim biasanya, wangi dan rasa the hijaunya lebih kerasa dibandingkan manisnya, mungkin ini kelebihan menu-menu yang berbasis the hijau yang gw coba di sana. Rasa the hijau selalu lebih kuat dibandingkan rasa yang lainnya. Tetapi karna gak ada yang buat gw akan ingat secara special dengan es krim di toko pinggir jalan itu, jadi gw kasih poin 7 dari 10 untuk es krimnya. Satu cup es krim ini sekitar ¥350.

Matcha Ice Cream

Octopus Katsu (Gorengan Gurita)

Masih dari seputaran Arashiyama, beli di stall sepanjangan jalan yang mengarah ke Togetsugo Bridge. Denagn harga ¥200 gw beli Octopus Katsu (Gorengan gurita) yang bentuknya sebelas duabelas dengan otak-otak, rasanya juga sepertinya gak jauh beda. Gak terlalu banyak tepung, gorengan ini lebih manusiawilah rasa guritanya dan kadar guritanya, jadi kekenyalannya memang didapet dari olahan gurita yang lebih banyak. Rasanya sedikit asin. Untuk rasa 8,5 dari 10, rasanya lebih baik dibandingkan yang gw beli di Stasiun Tokyo. Selain itu katsu yang ini terasa lebih gurih, seperti masakan diberi penyedap rasa, tapi menurut gw buka michin seperti ajinomoto yang kita makan di Indonesia, ntah rasanya dating dari mana. Lumayan enak. Suka rasanya, tapi harganya gak terlalu suka🙂.

Kusi Katsu

Dari Kyoto, mantan ibukota Negara Jepang, kami melaporkan. Sekian, kembali ke Studio. Nah, gimana makanan Kyoto, lumayan menarik? Atau banyak yang gw lewatin?