Yups, setelah tersiksa hati, batin, waktu, apalagi kantong waktu ngurus Visa Jepang. Akhirnya tibalah saat yang paling gw tunggu, yaitu menapakkan kaki gw yang indah ini ke Negara Matahari Terbit tersebut. Itu berarti saatnya memenuhi berlembar – lembar itinerary yang sudah dibuat entah beberapa bulan sebelumnya. Itinerary ini isinya tak lain dan tak bukan adalah mengunjungi tempat – tempat menarik yang gratis atau fee entrance-nya murah, berburu barang – barang unik dan lucu, dan yang utama banget adalah menyantap makanan lokal. Nah berhubung hal yang pertama cukup banyak dan berbanding terbalik dengan hal kedua yang ternyata gw susah dapetin, akhirnya akan gw ceritakan berbagai makanan Jepang yang udah gw coba. Yupssss, selalu ada kesan tersendiri, gimna rasanya nyoba makanan ditempat dia diciptakan (halah), pasti beda dengan berbagai macam fast food ataupun franchise atau juga yang di jual di super market di Indonesia. So, review di bawah ini asli dari sudut pandang gw, penilaian gw, tanpa ada paksaan dari abang –abang atau om penjual untuk kasih rating bagus ataupun pengaruh buruk dari yang beda selera, dan sebelumnya maaf, mungkin beberapa atau bahkan banyak menu gak mengandung label halal dari MUI, so sowwwryyy. Edisi pertama pastinya ibukota negara Sakura, Tokyo dan daerah di sekitarnya yaitu Kawagoe di Saitama dan Kawaguchi.

Sushi

Mungkin inilah makanan yang paling ingin dicobai saat bertandang ke Jepang, begitu juga gw ama teman – temen gw. Tsukiji Fish Market menjadi daerah incaran kami  dengan kunci utama tempat makan adalah ‘Cari antrian terpanjang’, sayang kelaparan kami membuat tidak sanggup mengantri di tempat terpanjang, akhirnya kami masuk di rumah makan Yamazaki. 

Yamazaki Sushi di Tsujuki Fish Market
Yamazaki Sushi di Tsukiji Fish Market

Sushi di sini beda dengan beberapa sushi yang pernah gw makan di Indonesia, benar – benar mentah, gak di panggang, rebus, atau di asapin walau sebentar. Karna itu, gw ambil yang satu paket, isinya; tuna, salmon, udang, cumi – cumi, kepiting, gurita, kerang besar, ikan kuning (gak tau namanya), telur dadar gulung (inipun setengah matang), dan telur ikan.

Untuk rasa, semuanya rasa mentah, hehehehe, benar – benar rasa dari setiap jenis sushi. Sushi terasa segar dan gak berbau. Gw suka kekenyalan sushinya, pas buat gw. Dari 10 jenis hidangan gw paling suka sushi salmon dan cumi-cumi. Selain itu dalam setiap penyajian sushi di kasih potongan jahe segar, jadinya seperti acar jahe. Yang gw gak suka adalah wasabi. Ini pertama kalinya makan wasabi, pedesnya nyelekit, sampe ke ubun-ubun, seperti orang yang diam-diam menusuk kita dari belakang. Sakitnya kemudian. Hehehehehe.  Selain wasabi, gw gak suka telur ikan, waktu nyobain satu-satu, rasanya okelah, ternyata saat dimakan bersamaan, walau butiran telur tersebut terasa segar, tapi bau amisnya yang kuat membuat gw hampir aja mengeluarkan lagi, tapi demi menghargai koki dan asisten koki, si abang ganteng yang ada di ujung kiri, gw nelan dengan perlahan dan ada sensasi sendiri makan telur ini, saat dikunyah, seperti ada balon udara pecah dan ngeluarin hawa dingin di mulut. Untuk Sup Miso-nya gw suka banget (ngabisin punya upik juga gw), rasanya simple, cuku mentralisir berbagai macam rasa sushi, telur dadarnya hambar, gw gak gitu suka. Untuk Ocha, ternyata lebih pahit daripada yang di sajikan di sushi tei, tapi karna gw biasa minum yang pahit jadi gw suka, selain itu setelah makan yang mentah minum ocha ini rasanya segar sekali, sangat melegakan.

Nah, untuk Yamazaki rate rasanya 8,5 dari 10. Harga yang ditawarkan untuk satu paket ¥2100 cukup memuaskan. Untuk tempat, makan di sini sepertinya tidak diperuntukkan ngobrol lama, hanya untuk makan.

Ramen

Ada dua lokasi tempat saya mencoba ramen yaitu;

  • Ramen di food court di Diver City Plaza, Odaiba
Ramen di Food court Odaiba, Diver City Plaza, lt 1
Ramen di Food court Odaiba, Diver City Plaza, lt 1

Pertama liat tampilannya gw suka banget, menarik dan porsinya besar sekali. Ramen ini lumayan rame isinya; ada potongan wortel, selada, ada dua bahan yang gw gak tau namanya, kenyal. Kuahnya seperti sop bandung, gak jernih tapi bukan dari santan, sepertinya dari kari pork dan kental. Untuk mienya sendiri kenyal dan padat, jadi mengenyangkan banget. Rasa pork di kuah sangat kuat walaupun irisan pork-nya Cuma bikin geli-geli perut gw doank, hehehehehe. Dagingnya sendiri lembut, kalo digigit gak ngajak kelailah. Untuk skala 10, gw kasih 9,5 ramennya (secara ini ramen pertama dan kurang 0,5 karna dagingnya dikit, hehehehe), quite a good deal untuk harga ¥720 dan tempatnya seperti food court pada umumnya, bisa untuk ngobrol, tapi jangan harapkan ketenangan, bukan karna berisik banget, tapi karna banyak orang berseliweran (gak papah si buat gw, secara yang lewat abang – abang ganteng *grin*).

  • Ramen di Akihabara
Ramen di perempatan Akihabara
Ramen di perempatan Akihabara

This is it. rate gw 10 untuk citarasanya. Kuahnya pas, untuk gw, kuah ramen yang pas adalah yang seperti di Akihabara ini, gak sekental di Odaiba, tapi gak secair sup miso juga. Rasa bumbu di kuah juga gak berlebihan. Pork-nya lembut kurangnya cuma telalu sedikit ;p. mie yang ukurannya lebih lebar, tipis memanjang dan tidak sekeknyal di Odaiba. Secara keseluruhan rasa gw lebih suka yang ini. Tambahan dua lembar nori menambah nilai plus-nya juga. Selain itu, telur rebus yang bagian kuning telurnya setengah matang lebih gw sukai. Porsinya juga besar. Untuk harga sekitar ¥620, gw sangat rekomendasiin ramen di sini. Kalo mau ke sini, Warungnya ada di lantai dasar yang posisinya lebih rendah dari jalan raya. Letaknya di perempatan….merek nyajiin berbagai macam ramen, ada ayam dan lain – lain, gw udah coba kuah ramen ayam yang temen gw pesen, rasa kuahnya jauh beda dengan pesenan gw, so gw bisa yakinin, ramen2 ini dimasak berdasarkan pesanan, gak menggunakan adonan yang sama (untuk yang gak makan pork). Untuk tempat nyaman, walaupun kecil lumayan bisa ngobrol. Bila datang berempat atau kurang masih nyaman, tapi kalo datang satu er-te sebaiknya makan ramen di Odaiba aja😀.

Curry Rice (Nasi Kari)

Nasi kari di Tokyo Stasiun
Nasi kari di Tokyo Stasiun

Nasi Kariiii, yeah, akhirnya kami bisa coba nasi kari dan nyobanya di Tokyo stasiun. Awalya tertarik dengan display yang sangat menarik, didukung toko yang lain belum buka, sedangkan yang sudah buka lainnya antriannya lebih panjang dari antrian sembako gratisan. Tapi gw gak nyesel masuk ke warung ini. Sekali lagi gw mesen yang kandungannya gak berlabel MUI, Pork Curry Rice. Uh saudara, rasanya mantap banget. Nasi kari ternyata nasinya sangat pulen, padat, dan kenyal (mirip nasi ketan tapi tanpa minyak, lebih lembut, gak sepadat, dan sekaku nasi ketan). Ukuran butiran nasinya lebih besar dari nasi di Indonesia. Dari beberapa menu bernasi yang gw coba, nasi ini paling enak. Untuk pork digoreng dengan tepung, bagian dalamnya, dagingnya lembut dan lapisan tepung gorengnya renyah. Bumbu tepung gorengannya tidak terlalu kuat, jadi pork-nya terasa banget dan lapisan tepung goreng hanya memberi kesan renyah. Tempatnya nyaman dan harganya memang agak lebih mahal, untuk pesanan saya ¥820, tetapi rata – rata menu sekitar ¥650. Ah, untuk NAsi Kari, gw kasih nilai 10. Suki suki desu!!

HotÔ

HotohNah, HotÔ ini makanan berbahan dasar mie dan jenis mie berkuah,hotoh ini special hanya ada di seputaran Kawaguchi Lake, katanya sih untuk menjaga masakan asli masing2 daerah, jadi gak ada di daerah Tokyo lainnya. So kalo mau makan hotoh, mesti ngesot sekitar 2,5 jam ke arah utara Tokyo, sekalian liat Fuji-San. Hotoh ini mungkin mirip mi jogja atau mi jawa kali yah, tanpa daging. Untuk vegetarian juga pas. Mienya besar, lebar dan tebal, isinya berbagai macam sayuran; wortel, sawi, sawi putih, kacang, dan irisan timun, dan tahu. Pertama datang mie ini kami kaget sekaget-kagetnya, secara disajiin di baskom dengan centong jadi sendoknya, wkwkwkwkwk. Intinya porsinya kami jadikan 1 mangkok untuk 2-3 orang. Rasanya sederhana banget, simple, tapi pas untuk suhu dingin di Kawaguchi, sepertinya tidak berbumbu terlalu banyak, hampir plain (hambar). Di mulut saya, rasa yang timbul dari berbagai macam campuran sayuran, tapi sangat menyegarkan.

Untuk tempat sangat nyaman dan lumayan luas, enak makan dan ngobrol, mungkin pas untul makan keluarga dan orang – orang dekat, atau setidaknya suasana di dalam restoran memberi dampak seperti itu. Ini musti di coba kalo pengen mampir ke Gunung Fuji. Harga satu mangkok ¥1,000. Menurut gw worthed buat porsi dan rasanya dan pengalamannya. Hotoh di Kawaguchi 9,5 (knapa? karna kami makan pas lagi laper banget, 0.5 point gw potong, LOL)

Tempura Set

Tempura di Shibuya
Tempura di Shibuya

Ehm, rasanya kurang lengkap kalo gak nyobain yang satu ini, so last day di Tokyo kami makan Tempura di Shibuya. Pastinya beli yang paketan. Tempura set gw isinya udang, timun, belut, dan gw lupa lagi apa isinya. Yang pasti, rasanya enak, gurih, dan garink banget, bumbu di tepung tidak berlebihan. untuk nasinya, gw lebih suka yang di ari, lebih pulen.  Harga 1 set tempura, termasuk miso adalah ¥550 dan yang bagus dari tempat ini kita bisa memesan nasi setengah saja. Tempatnya nyaman untuk ngobrol dan makan santai. Rate tempura 8,5 dari 10.

So, itu beberapa makanan yang gw coba, semuanya enak. Tertarik untuk coba gak?