Yupsss, akhirnya kami sekeluarga bisa tau gimana rasanya ‘nginjak tanah’ orang luar, Singapura tepatnya. Sama dengan orang – orang Indonesia pada umumnya yang jadiin Singapura sebagai tujuan pertama mungkin utama untuk ke luar negeri. Gw pernah baca di salah satu artikel kalo di tahun 2011, wisatawan paling banyak yang melipir ke Singapura itu dari Indonesia, kemudian di posisi kedua Cina yang tertinggal jauh jumlahnya. Gw dan keluarga gw di tahun 2011 itu pertama kali ke Singapura, berarti kami menjadi salah satu keluarga yang mereka bicarakan, ckckckckck, menyumbang pemasukan ke negara singa itu juga, lagi – lagi ckckckckck. Whatever kami cukup bersenang – senang.

Wajah - wajah yang seneng pertama kali bernorak –norak ria ke luar negeri
Wajah – wajah yang seneng pertama kali bernorak –norak ria ke luar negeri

Tapi tunggu dulu, bersenang – senang itu hari kedua. Untuk hari pertama yang terjadi adalah kami norak – norak bergembira. Kenorakan ini terjadi saat turun dari pesawat, secara baru pertama kali keluar negri berarti baru pertama kalinya ngerasain lewat imigrasi. Karna buta sama sekali tentang imigrasi dan tetek bengeknya, dengan sok kalem gw ajak keluarga untuk mengikuti di mana arah keramaian dan ngapalin wajah teman satu  pesawat tanpa harus kenalan (di sini gw tengsin nanya, secara gw lebih baik tersesat daripada keliatan norak, wkwkwwk). Nah ternyata keramaian pertama adalah orang pada sibuk ngisi Kartu Imigrasi!. Walau kita dibilang serumpun dan sama – sama Asia Tenggara, untuk masuk ke Singapura, kita harus mengisi Kartu Imigrasi. Beda dengan beberapa kunjungan gw ke luar negri setelahnya di mana kartu imigrasi di kasih beberapa saat sebelum pesawat mendarat, di Singapura Kartu Imigrasi ini disediakan persis sebelum masuk ke Imigrasi Check. Jadilah kami sekeluarga bergerombol bersama untuk mengisinya. Gw pikir cuma kami yang norak, tapibbetapa kagetnya gw ternyata banyak yang celingak – celinguk, menatap hampa tuh kartu imigrasi.

Beginilah bentuk antrian di Immigration check
Beginilah bentuk antrian di Immigration check

Setelah mengisi dan sempat ngajarin teman serumpun ngisi (sombong dikit), kami berbaris gak kalah rapi dibelakang barisan yang udah rapi. Terus lirik2 apa yang dilakukan orang. Ah ternyata di imigrasi di check satu2 kecuali anak di bawah umur boleh ikut walinya. Gw, kakak gw, ponakan yang ceweq, dan adeknya lolos, tibalah giliran bokap gw, sudah bahasa inggris-nya paling fasih hanya di yes, ternyata bokap gw bermasalah; boarding pass doi ilang, gw gak tau knapa hanya dengan alesan itu bokap digiring ke kantor imigrasi dan dengan sedihnya sekaligus panik kami menatapnya. Ternyata setelah sekitar 15 menit di interogasi, bokap keluar dengan wajah sumringah dan kamipun keluar, menatap masalah baru (secara gak persiapan detail). Kali ini kami bingung mau naik apa, akhirnya karna kami pergi se-erte, diputuskan naik taxi yang banyak berseliweran di depan pintu keluar.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan yang melelahkan dan was – was dengan taxi, kami sampai di Hotel yang tidak seberapa tapi lumayan bersih dan cukup untuk harga yang kami bayarkan. Gimana gak was – was, sepanjang jalan otak gw lelah memikirkan berapa uang yang dikeluarkan untuk bayar taxi sambil mata gw yang gak besar – besar banget ini melototin argo, berharap kalo gw pelototin dia gak bergerak cepat, wkwkwkkw. Tapi ternyata kekhawatiran gw itu tak beralasan karna taxi-cukup dibayar ± $ 23 SGD (yah saat itu nilai belinya $1 = IDR 7,000). Yah, quite a good deal-lah mengingat hampir2 ajah gw di suruh duduk di bagasi sama supirnya karna yang naik lebih banyak dari jumlah seat yang ada di taxi. Kekekekekeke.

Jadi begitulah pendaratan sempurna kami untuk pertama kalinya ke negara tetangga. Gimna dengan kalian? Ke negara mana perjalanan luar kalian yang pertama? Apa kalian juga senorak kami?