Yah, agak berlebihan memang, tapi gw ngalamin beberapa masalah dari sekian poin yang harus dipenuhi sebagai persyaratan aplikasi visa wisata ke Jepang.

Bermodal pede dari pengalaman aplikasi visa liburan ke Australia tahun 2011 lalu, dengan semangat ’45 dan bamboo runcing yang tak pernah luntur sejak dua bulan sebelumnya. Gw memberanikan menapakkan kaki ke Kedutaan Jepang di Surabaya (karna KTP gw Kalimantan Timur).

Dan sampai di depan kedutaan semua peralatan elektronik dan tas gw di tahan di pos sekuriti (yang biasanya protes di panggil satpam), barang yang boleh di masuk hanya berkas – berkas yang berkaitan dengan aplikasi ama dompet, untuk bayar – bayar kali ye.

Setelah mengambil nomor antrian, gw duduk manis sambil memeriksa kembali berkas2 yang sudah saya siapkan dan pastinya dengan kepedean yang tak pernah luntur sedikitpun. Saat nomor antrian dipanggil, gw maju dengan senyum simpul yg gw pikir udah manis banget, sayangnya bapak penjaga loket gak memikirkan hal yang sama dengan yang gw pikirkan -__-“!. Dan ternyata ketidaksamaan pemikiran gw dengan si Bapak Penjaga Loket terus berlanjut di aplikasi, dengan muka lempeng dia baca – baca dan buka – buka aplikasi gw, sampai setelah ketiga kalinya dia sampai ke halaman terakhir akhirnya muncullah percakapan yang membuat saya kesal seperti berikut;

Bapak Penjaga Loket      “Sudah pernah ke Jepang sebelumnya?”

Gw          “Belum”

BPL         “Mau ngapain ke sana?”

Gw          “Liburan.

Bapak penjaga loket boalk balik berkas lagi dan gw gak sabar. Akhirnya BPL memecah keheningan.

BPL      “Tiket dari Kalimantan ke Jakarta mana?” karna saya berangkat dengan air asia dr Jakarta – Tokyo dan balik Osaka – Jakarta.

Gw (dengan gelalapan) “oh, dipersyaratan yang saya baca tidak ada seperti itu pak, hanya keluar masuk  Jepang.”

BPL      “Pesen dulu tiket dari daerah asal ke Jakarta baru kembali lagi.”

Gw melongo. Dengan bodohnya bilang “Saya gak bisa balik lagi pak, Cuma punya kesempatan sekarang.”

Si BPL dengan muka lempeng dan wajah yg menurut gw sedikit ngeselin, pergi kesesuatu tempat dan akhirnya nyerahin gw secarik kertas A4 sambil bilang “Ini ada beberapa agen yang kami percaya, 3 nama teratas adalah yg paling direkomendasikan.”

Gw    “What???” tapi cuma dalam hati (kaya lagu Ungu itu) dan keluar sambil memendam kegalauan dan sedikit sakit hati, Jujur.

Pendeknya, gw memutuskan make agen yg gak di rekomendasiin, malah pake agen temennya temen gw. Panjang yah. Di sini gw berharap semua akan baik-baik ajah setelah gw pake agen dan ternyata…lagi –lagi, pikiran gw gak sama dengan mereka;

  1. Paspor. (berlaku setidaknya 6 bulan sebelum keberangkatan) —poin pertama aja gw udah error, nama di KTP sama nama di passport gw gak sama. Gw lampirin surat keterangan RT bahwa ada kesalahan penulisan, mereka gak terima karna di kasus gw di KTP ada penambahan nama belakang, yang dianggap nama keluarga, in adalah kasus terberat, harus menggunakan surat dari pengadilan. TT_TT
  2. Formulir permohonan Visa
  3. Foto kopi KTP — ini kesalahan merujuk poin 1.
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (bila masih mahasiswa)
  5. Bukti Pemesanan Tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk – keluar Jepang). –> Pastikan lo punya tiket dari rumah lo!!.
  6. Jadual perjalanan (download di http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html).
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dsb. (Bila pemohon lebih dari satu). Ini masuk di poin nomor 1 juga.
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan; — nah ini kesalahan gw pake agen, mereka hanya mau melayani bila rekening isinya di ats 30 juta. What?? Setelah ngerengek2 sama bokap, ngorek2 receh di rekening sebelah, gw berhasil ngumpulin duit yang gw pikir gak akan sebanyak itu selama gw di Jepang.

Setelah memenuhi semua persyaratan di atas, akhirnya gw dapet visa? Oh belum kawan. Adalagi. Berhubung gw pergi ama temen gw yang di Jakarta dan mereka urus di Jakarta, pihak kedutaan Jepang di Surabaya minta di-fax passport temen gw itu (dan sedikit kesel mungkin dia ngirimin ke kedutaan), kasian temen gw ikut direpotin. Akhirnya visa Jepang? Yupsss, seperti lagu Badai Pasti Berlalu, akhirnya badai visa Jepang gw berlalu dan gw rayain dengan loncat – loncat kegirangan yang ngalahin goyang ngebor Inul di jamannya. Oh yah sebelum badai bener2 berlalu, gw juga kena di rekening Koran, walau mereka bilang antara rekening Koran atau kopian rekening, mereka gak nerima kertas yang  bener – bener seukuran Koran, jadi buatlah itu di A4 untuk memudahkan mata mereka. Sekian.

???????????????????????????????Note: buat bapak – bapak penjaga loket, map yah, anyway gw menikmati Jepang dengan sangat.

Apa kalian pernah dapat masalah lebih banyak dari gw? Walau mungkin kesalahan ada di kita.